30.000 Pasukan Kolombia Disiagakan di Perbatasan Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 06:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Kolombia Gustavo Petro Presiden Kolombia Gustavo Petro (NBC News)

Ntvnews.id, Washington D.C - Situasi di kawasan perbatasan Kolombia dan Venezuela kian tegang menyusul penculikan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat (AS). Pemerintah Kolombia mengerahkan sekitar 30.000 personel militer ke wilayah perbatasan timur yang berbatasan langsung dengan Venezuela, membentang sepanjang lebih dari 2.000 kilometer.

Dilansir dari Reuters, Jumat, 9 Januari 2026, pengerahan besar-besaran ini bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan dari kelompok bersenjata lintas negara yang terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba, termasuk kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Nasional (ELN).

Langkah tersebut sekaligus menjadi bantahan atas tudingan Presiden AS Donald Trump yang menilai Kolombia gagal membendung peredaran narkoba lintas batas, serta merespons kekhawatiran bahwa Kolombia dapat menjadi sasaran Washington berikutnya.

Baca Juga: Trump Perintahkan AS Keluar dari 66 Organisasi Dunia, Termasuk Entitas PBB

Namun, krisis yang berkembang tidak semata-mata berkaitan dengan isu keamanan. Sejak ekonomi Venezuela kolaps, jutaan warganya mengalir ke Kolombia untuk mencari kebutuhan dasar seperti pangan, lapangan pekerjaan, hingga layanan kesehatan. Kondisi ini membuat Kolombia berupaya bersiap menghadapi tekanan kemanusiaan yang berpotensi melampaui kapasitas nasionalnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak dunia tercatat bergerak naik tipis setelah dua hari mengalami penurunan. Kenaikan ini dipicu oleh berkurangnya persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan, sehingga mendorong minat investor terhadap kontrak berjangka sambil terus memantau dinamika di Venezuela.

Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py) <b>(Antara)</b> Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Minyak mentah Brent tercatat naik 38 sen atau sekitar 0,6 persen menjadi USD60,34 per barel pada pukul 01.04 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 37 sen atau 0,7 persen ke level USD56,36 per barel. Meski demikian, kedua acuan harga tersebut sebelumnya sempat terkoreksi lebih dari 1 persen selama dua hari berturut-turut.

Pelaku pasar masih memperkirakan pasokan global akan tetap melimpah sepanjang tahun ini. Sejumlah analis, termasuk dari Morgan Stanley, memproyeksikan potensi surplus pasokan hingga tiga juta barel per hari pada paruh pertama 2026, yang terus menjadi faktor penekan pergerakan harga minyak ke depan.

x|close