AS Sita Kapal Tanker Berbendera Rusia Pengangkut Minyak Venezuela di Atlantik Utara

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jan 2026, 11:14
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
AS Sita Kapal Tanker Russia yang Angkut Minyak dari Venezuela AS Sita Kapal Tanker Russia yang Angkut Minyak dari Venezuela (Anadolu Agency)

Ntvnews.id, Washington — Pemerintah Amerika Serikat akhirnya berhasil menyita sebuah kapal tanker minyak berbendera Rusia di Samudra Atlantik Utara. Kapal bernama Marinera, yang sebelumnya dikenal sebagai M/V Bella 1, ditangkap karena diduga kuat melanggar sanksi ekonomi yang diberlakukan AS.

Penyitaan tersebut merupakan hasil kerja sama lintas lembaga, melibatkan Kementerian Kehakiman AS, Departemen Keamanan Dalam Negeri, serta Departemen Pertahanan. Informasi itu disampaikan secara resmi melalui akun media sosial X milik otoritas terkait.

Operasi penangkapan kapal dilakukan berdasarkan surat perintah pengadilan federal Amerika Serikat. Kapal tanker tersebut sebelumnya dilacak oleh USCGC Munro, kapal milik Penjaga Pantai AS, sebelum akhirnya berhasil diamankan di perairan Atlantik Utara.

“Blokade terhadap minyak Venezuela yang dikenai sanksi dan ilegal tetap berlaku sepenuhnya di mana pun di dunia,” kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis, 8 Januari 2026.

Pemerintah AS menyatakan bahwa operasi ini merupakan bagian dari kebijakan Presiden Donald Trump untuk menindak kapal-kapal yang dinilai membahayakan stabilitas dan keamanan kawasan Belahan Barat. Langkah tersebut juga mencerminkan komitmen Washington dalam menegakkan sanksi terhadap distribusi minyak ilegal.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menjelaskan bahwa kapal tanker Marinera termasuk dalam jaringan “armada bayangan” yang digunakan Venezuela untuk mengangkut minyak yang berada di bawah sanksi AS.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp14 Ribu, Jadi Rp2,57 Juta per Gram

Menurut Leavitt, kapal tersebut dianggap kehilangan status kewarganegaraan karena beroperasi menggunakan bendera palsu. Kondisi itu membuat kapal dapat dikenai perintah penyitaan yudisial, yang menjadi dasar hukum tindakan Amerika Serikat.

“Itu berarti awak kapal sekarang dapat dituntut atas pelanggaran hukum federal yang berlaku, dan mereka akan dibawa ke Amerika Serikat untuk penuntutan tersebut jika perlu,” tambah Leavitt.

Jaksa Agung AS, Pam Bondi, menegaskan bahwa meskipun awak kapal berusaha menghindari penangkapan, pasukan AS berhasil mengamankan kapal tanpa insiden. Ia menyebut seluruh kru saat ini tengah menjalani penyelidikan menyeluruh karena tidak mematuhi perintah Penjaga Pantai AS.

Bondi juga menyampaikan bahwa Departemen Kehakiman akan terus memantau kapal-kapal lain yang diduga terlibat dalam pengiriman minyak ilegal. Ia memperingatkan bahwa setiap pihak yang mengabaikan instruksi aparat AS akan menghadapi proses hukum pidana.

Pernyataan tersebut muncul setelah Rusia menuntut jaminan atas keselamatan dan perlakuan terhadap warganya yang berada di atas kapal tanker tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/pri <b>(Antara)</b> Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/pri (Antara)

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, mengungkapkan bahwa Marinera bersama kapal tanker lain bernama Sophia yang juga ditangkap AS terakhir tercatat berlabuh di Venezuela atau sedang menuju ke negara tersebut.

“Para penjahat dunia telah diberi peringatan. Anda bisa lari, tetapi Anda tidak bisa bersembunyi,” kata Noem, seraya menyebut pergantian nama dan bendera kapal sebagai upaya putus asa yang gagal.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Amerika Serikat mengerahkan pesawat pengintai P-8 Poseidon serta pesawat tempur AC-130J untuk mendukung operasi penyitaan tersebut.

Kapal tanker Marinera sebelumnya sempat menolak pemeriksaan oleh Penjaga Pantai AS di dekat perairan Venezuela pada Desember lalu. Setelah itu, kapal mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS), mengganti nama, serta mendaftarkan ulang kapal di bawah bendera Rusia sebelum menghilang di laut lepas.

Sebagai respons, Moskow disebut mengerahkan kapal selam dan aset angkatan laut lainnya untuk mengawal kapal tersebut, sebagaimana dilaporkan CBS News.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa kapal tersebut berlayar di perairan internasional Atlantik Utara dengan mematuhi hukum maritim internasional. Rusia juga menilai tindakan AS sebagai bentuk perhatian yang berlebihan dan tidak proporsional.

Washington sendiri telah menjatuhkan sanksi terhadap kapal itu sejak 2024 karena dugaan keterlibatannya dalam pengangkutan minyak ilegal yang terkait dengan Iran dan entitas lain yang masuk daftar hitam.

Venezuela mengecam keras tindakan AS dan menyebut penyitaan kapal tersebut sebagai bentuk “pembajakan internasional.”

Operasi penyitaan ini berlangsung hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dilaporkan melakukan operasi militer di Venezuela yang bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

HIGHLIGHT

x|close