Ancaman AS Caplok Greenland Ungkap Ketimpangan Kekuatan Militer NATO dan Uji Solidaritas Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Jan 2026, 07:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Gedung markas Uni Eropa di Brussels, Belgia. Arsip - Gedung markas Uni Eropa di Brussels, Belgia. (ANTARA)

Ntvnews.id, Jakarta - Ancaman Amerika Serikat (AS) untuk merebut Greenland dengan kekuatan militer memunculkan potensi sengketa serius di internal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Situasi ini memicu pertanyaan besar: mampukah negara-negara Eropa menghadapi AS secara militer jika skenario tersebut benar-benar terjadi?

Dalam laporan yang ditulis koresponden pertahanan Newsweek, Ellie Cook, disebutkan bahwa pernyataan Presiden Donald Trump soal Greenland sekaligus menyoroti besarnya ketergantungan NATO terhadap kekuatan militer Amerika Serikat. Gagasan bahwa negara paling dominan dalam aliansi itu berbalik melawan sesama anggota dinilai dapat berujung pada runtuhnya NATO.

Newsweek membandingkan kapabilitas militer dan mencatat bahwa AS unggul jauh di hampir seluruh sektor. Dari sisi udara, Angkatan Udara AS memiliki lebih dari 1.400 pesawat tempur operasional, melampaui gabungan kekuatan udara negara-negara besar Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Turki.

Pada kekuatan darat, Angkatan Darat AS memiliki sekitar setengah juta personel aktif, didukung ribuan tank serta kendaraan tempur lapis baja, menjadikannya kekuatan darat terbesar di NATO. Kesenjangan ini semakin nyata dengan kepemilikan lebih dari 2.600 tank Abrams dan sekitar 10.000 pengangkut personel lapis baja, sementara sejumlah angkatan darat Eropa justru mengalami penurunan jumlah pasukan dan alutsista dalam beberapa dekade terakhir.

Baca Juga: China Tegaskan Dialog Jadi Solusi Krisis Ukraina, Tolak Sanksi Sepihak Uni Eropa dan AS

Di sektor maritim, Angkatan Laut AS tetap menjadi tulang punggung NATO berkat armada kapal induk dan kapal selam nuklir yang mampu beroperasi secara global. Kondisi ini berbeda dengan kekuatan laut Eropa yang dinilai maju secara teknologi, tetapi terbatas dalam jangkauan operasi.

Perbedaan signifikan juga terlihat pada kemampuan senjata nuklir. Amerika Serikat bersama Rusia menguasai mayoritas hulu ledak nuklir dunia. Di dalam NATO sendiri, selain AS, hanya Inggris dan Prancis yang memiliki kapabilitas nuklir.

Newsweek menyimpulkan bahwa tanpa Amerika Serikat, NATO masih akan menjadi aliansi militer besar, namun kehilangan daya tangkal strategis komprehensif yang selama ini disediakan Washington. Memanasnya isu Greenland dan ketegangan geopolitik global pun memunculkan pertanyaan baru tentang masa depan NATO, soliditas internalnya, serta perannya dalam keseimbangan kekuatan dunia.

Foto Dokumen: Bendera Uni Eropa berkibar di luar markas Komisi Uni Eropa di Brussel, Belgia, 17 Juni 2022.  <b>(ANTARA)</b> Foto Dokumen: Bendera Uni Eropa berkibar di luar markas Komisi Uni Eropa di Brussel, Belgia, 17 Juni 2022. (ANTARA)

Di sisi lain, para pemimpin Eropa secara terbuka menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Denmark atas Greenland. Sikap ini muncul setelah salah satu pembantu utama Presiden Trump menyebut kemungkinan AS merebut wilayah tersebut melalui agresi militer.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa Greenland wilayah semi-otonom Kerajaan Denmark. milik rakyatnya”. Dalam pernyataan bersama dengan Perdana Menteri Denmark serta para pemimpin Italia, Polandia, dan Spanyol, mereka menyatakan, “Ini adalah tanggung jawab Denmark dan Greenland, dan hanya mereka saja, yang memutuskan masalah terkait Denmark dan Greenland.”

Starmer kembali menegaskan posisi Inggris dalam konferensi pers di Paris yang turut dihadiri utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan Jared Kushner.

“Saya sudah sangat jelas mengenai posisi saya, posisi pemerintah Inggris,” ujarnya.

Baca Juga: Uni Eropa Siapkan Larangan Peralatan Jaringan 5G China

Meski demikian, demi menghindari keretakan lebih dalam di hubungan transatlantik, para pemimpin Eropa memilih memfokuskan agenda pada komitmen keamanan baru untuk Ukraina. Deklarasi Eropa tersebut muncul di tengah pernyataan kontroversial pejabat AS, Stephen Miller, yang menegaskan “tidak ada seorangpun yang akan melawan Amerika Serikat secara militer demi masa depan Greenland”.

Dalam wawancara dengan CNN, Miller bahkan menyebut intervensi militer tidak diperlukan karena populasi Greenland yang kecil. Sehari sebelumnya, Trump kembali menyatakan bahwa AS “sangat membutuhkan Greenland”, memicu kekhawatiran akan invasi demi menguasai sumber daya strategis seperti minyak, gas, dan logam tanah jarang.

Kekhawatiran juga disuarakan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen yang menilai serangan terhadap Greenland berisiko menghancurkan NATO. “Ini akan jadi akhir dari segalanya,” katanya. Mengingat Pasal NATO mewajibkan seluruh anggota membela negara yang diserang, agresi militer AS terhadap sesama anggota dinilai akan otomatis membubarkan aliansi tersebut.

Sementara itu, Prancis menyatakan tengah berkoordinasi dengan sekutu-sekutunya untuk menentukan langkah jika AS benar-benar menginvasi Greenland. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menegaskan, “Kami ingin mengambil tindakan, tapi kami ingin melakukannya bersama dengan mitra kami di Eropa.”

Meski Gedung Putih menyebut Trump tengah mempertimbangkan “berbagai opsi” untuk mengakuisisi Greenland, termasuk penggunaan militer, Barrot mengungkapkan bahwa Menlu AS Marco Rubio telah menepis kemungkinan invasi. “Saya sendiri berbicara melalui telepon kemarin dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio… yang mengonfirmasi bahwa ini bukanlah pendekatan yang diambil,” ujarnya.

Namun, meningkatnya retorika pemerintahan Trump setelah operasi militer AS di Venezuela dinilai membuat ketegangan internasional kian memanas dan kembali mempertanyakan keberlangsungan NATO di masa depan.

x|close