Ntvnews.id, Seoul - Lebih dari 4.000 sekolah di Korea Selatan terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar akibat terus merosotnya jumlah siswa. Situasi ini terjadi seiring penurunan angka kelahiran yang kini tercatat sebagai yang terendah di dunia.
Korea Selatan saat ini menghadapi fenomena yang kerap disebut sebagai “resesi seks”, di mana semakin banyak warga, khususnya generasi muda, jarang menjalin hubungan, menunda pernikahan, atau bahkan memilih untuk tidak menikah sama sekali. Frekuensi hubungan seksual pun menurun, yang berdampak langsung pada anjloknya angka kelahiran hingga mencetak rekor terendah.
Dilansir dari Korea Times, Jumat, 2 Januari 2026, berdasarkan data terbaru Kementerian Pendidikan Korea Selatan yang disampaikan anggota parlemen Jin Sun-mee, hingga akhir 2025 tercatat sebanyak 4.008 sekolah tingkat dasar, menengah pertama, dan menengah atas telah ditutup di bawah 17 kantor pendidikan regional di seluruh negeri.
Dari total tersebut, sekolah dasar menjadi jenjang yang paling terdampak dengan 3.674 sekolah ditutup permanen. Sementara itu, sebanyak 264 sekolah menengah pertama dan 70 sekolah menengah atas juga berhenti beroperasi. Dalam lima tahun terakhir saja, 158 sekolah telah ditutup, dan sebanyak 107 sekolah lainnya diperkirakan akan menyusul tutup dalam lima tahun ke depan.
Baca Juga: Korea Selatan Perpanjang Pembebasan Biaya Visa bagi 6 Negara Termasuk Indonesia
Rendahnya angka kelahiran menjadi faktor utama di balik gelombang penutupan ini. Tingkat kesuburan total Korea Selatan kini berada di bawah 0,8, terendah di dunia, sehingga populasi usia sekolah menyusut dengan sangat cepat.
Dampak penurunan jumlah siswa diperkirakan akan semakin terasa di luar wilayah metropolitan Seoul. Data menunjukkan bahwa penutupan sekolah lebih banyak terjadi di daerah provinsi dibandingkan di ibu kota. Provinsi dengan jumlah penutupan sekolah terbanyak antara lain Jeolla Utara sebanyak 16 sekolah, Jeolla Selatan 15 sekolah, Gyeonggi 12 sekolah, dan Chungcheong Selatan 11 sekolah.
Korean Educational Development Institute mencatat jumlah siswa tingkat SD hingga SMA saat ini sekitar 5,07 juta orang. Namun, angka tersebut diproyeksikan turun menjadi hanya 4,25 juta pada 2029, atau berkurang lebih dari 800 ribu siswa dalam kurun enam tahun.
Korea Selatan. (Pixabay)
Sebagai perbandingan, pada era 1980-an, Korea Selatan memiliki lebih dari 10 juta siswa, atau lebih dari dua kali lipat jumlah saat ini. Permasalahan tidak berhenti pada penutupan sekolah semata.
Dari 4.008 sekolah yang telah ditutup, sebanyak 376 bangunan sekolah kini sama sekali tidak dimanfaatkan. Bahkan, 266 lokasi telah terbengkalai lebih dari 10 tahun, dan 82 lokasi lainnya ditinggalkan selama lebih dari 30 tahun.
Baca Juga: Pramono Sambut Wali Kota Nonsan Korea Selatan di Balai Kota DKI Jakarta
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan pemborosan aset publik, mengingat pengelolaan dan pemanfaatan kembali fasilitas pendidikan dinilai tertinggal jauh dibanding laju penutupan sekolah. Anggota parlemen Jin Sun-mee menegaskan pemerintah tidak bisa hanya menutup sekolah tanpa strategi lanjutan.
"Sejumlah besar sekolah telah ditutup dan jumlahnya akan terus bertambah. Pemerintah tidak boleh berhenti hanya pada penutupan, tetapi harus menyusun peta jalan jangka panjang untuk mengubah bekas sekolah menjadi aset bagi komunitas lokal," ujar Jin Sun-mee.
Ilustrasi Korea Selatan. /ANTARA/Anadolu/py (Antara)