Hari Ulos Nasional, Lomba Tari Tortor Digelar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Nov 2026, 06:02
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Jipindo menggelar lomba tari tortor dalam rangka memperingati Hari Ulos Nasional. Jipindo menggelar lomba tari tortor dalam rangka memperingati Hari Ulos Nasional.

Ntvnews.id, Jakarta - Jiwa Perempuan Indonesia (Jipindo) menggelar lomba tari tortor dalam rangka memperingati Hari Ulos Nasional sekaligus mendukung gerakan Ulos Goes to UNESCO. Kegiatan yang berlangsung di Arion Suites Hotel Kemang, Jakarta, Jumat, 6 November 2026 ini, menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Batak kepada masyarakat luas sekaligus mendorong pengakuan kain ulos sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia oleh UNESCO.

Mengusung semangat “Dari Tano Batak untuk Indonesia dan Dunia”, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan perlombaan tari tradisional tortor tetapi juga berbagai pertunjukan seni dan budaya. Acara turut dimeriahkan dengan talk show, trunk show atau peragaan busana, paduan suara GSI, penampilan angklung IMAKGI, tarian, serta hiburan lainnya.

Sejumlah tokoh dan pelaku seni turut memeriahkan kegiatan tersebut, di antaranya aktor sekaligus penyanyi Sandro Tobing dan pemenang Indonesian Idol 2018 Maria Simorangkir. Selain itu, penyelenggara menghadirkan bazar UMKM yang menampilkan beragam produk, mulai dari kuliner tradisional, wastra, batik, kain tenun, aksesori, hingga produk kreatif lainnya.

Melalui kegiatan ini, Jipindo ingin memperluas pemahaman masyarakat bahwa ulos bukan sekadar kain tradisional atau busana adat, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai filosofis, doa, kasih sayang, dan ikatan kekeluargaan masyarakat Batak.

Dalam tradisi Batak, ulos memiliki makna mendalam sebagai simbol pemberian doa dan harapan agar penerimanya memperoleh kesehatan, panjang umur, keberkahan, serta keharmonisan dalam kehidupan keluarga. Setiap jenis ulos juga mempunyai fungsi dan tata cara penggunaan tersendiri dalam berbagai tahapan kehidupan maupun upacara adat.

Pembina Jipindo, Dr. Hj. Cri Puspa Dewi Motik Pramono, M.A., M.Si., mengapresiasi kegiatan yang digagas organisasi tersebut. Menurutnya, kegiatan pelestarian budaya seperti ini memiliki manfaat luas, tidak hanya bagi keberlangsungan seni tradisi, tetapi juga bagi kebahagiaan dan hubungan sosial antaranggotanya.

"Saya sebagai penasihat di organisasi Jipindo merasa apa yang dilakukan Jipindo merupakan langkah yang sangat baik. Banyak manfaat yang bisa dirasakan, mulai dari pelestarian seni dan budaya, memberikan kebahagiaan kepada para perempuan, termasuk ibu-ibu yang sudah berusia lanjut, hingga menjadi ruang untuk terus belajar tentang kebudayaan," ujarnya saat ditemui di sela-sela acara.

Ia menambahkan, kegiatan semacam ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan meningkatkan keakraban di antara anggota organisasi. Pertemuan yang dikemas melalui kegiatan seni dan budaya dinilai mampu menghadirkan kebahagiaan sekaligus menumbuhkan semangat pengabdian.

Cri Puspa Dewi yang juga memiliki kedekatan dengan keluarga Batak mengaku telah mengenal tradisi dan kebudayaan ulos. Ia berharap organisasi seperti Jipindo terus menghadirkan kegiatan positif yang dapat memperkuat persatuan serta meningkatkan kontribusi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Sementara itu, Ketua Umum Jipindo, Purnama D. Napitupulu Sitompul, mengatakan dukungan terhadap gerakan Ulos Goes to UNESCO bukanlah kegiatan yang baru dilakukan organisasinya. Ia mengungkapkan telah terlibat dalam gerakan tersebut sejak 2016 melalui berbagai kegiatan bersama tokoh masyarakat dan tokoh nasional di Medan.

Saat itu, sejumlah kegiatan seperti seminar dan pertemuan kebudayaan digelar untuk membangun dukungan agar ulos memperoleh pengakuan internasional. Kehadiran tokoh nasional, termasuk Ibu Kanjeng Hemas, turut memberikan dorongan bagi gerakan tersebut.

"Ini merupakan tahun keempat kami melaksanakan kegiatan seperti ini. Mudah-mudahan gaungnya semakin besar dan semakin menggema sehingga masyarakat Indonesia ikut terlibat dalam menyukseskan Ulos Goes to UNESCO," kata Purnama.

Ia berharap ulos tidak hanya dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Batak, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional yang dapat diperkenalkan kepada dunia internasional.

"Harapan saya, ulos bukan hanya menjadi milik orang Batak, tetapi menjadi milik nasional dan mendunia. Kami ingin ulos bisa hadir dan mendapatkan pengakuan di UNESCO. Yang tidak kalah penting, generasi muda ke depan semakin mencintai dan ikut melestarikan budaya ulos," tegasnya.

Menurut Purnama, pelestarian ulos juga perlu berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Dalam penggunaannya untuk kepentingan adat, nilai-nilai dan ketentuan tradisional tetap harus dijaga. Namun, untuk memperluas penerimaan masyarakat, ulos dapat dikembangkan melalui berbagai inovasi desain dan produk fesyen.

Ia mencontohkan, ulos saat ini telah mengalami beragam pengembangan dan modifikasi sehingga dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Hal tersebut menjadi salah satu topik yang diangkat melalui talk show bersama perancang busana Raden Sirait dan Mefa Sianipar.

"Untuk kepentingan adat, ulos tentu harus tetap mengikuti pakem. Namun, agar lebih diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, ulos juga perlu dimodernisasi, terutama melalui dunia fashion. Dengan demikian, masyarakat luas dapat semakin mengenal dan mencintai ulos," jelasnya.

Selain sebagai agenda pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi ruang pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi kreatif. Kehadiran bazar UMKM, peragaan busana, serta pameran produk wastra dan kerajinan lokal diharapkan membuka peluang promosi dan pemasaran bagi para pelaku usaha, khususnya perempuan dan pengrajin tenun.

Melalui kegiatan tersebut, Jipindo menegaskan komitmennya untuk terus menggerakkan perempuan Indonesia agar berperan aktif dalam pelestarian budaya, pengembangan kreativitas, pemberdayaan ekonomi, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.

Semangat Ulos Goes to UNESCO diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama lintas generasi dan lintas daerah. Dengan dukungan masyarakat, pemerintah, pelaku seni, komunitas, serta generasi muda, ulos diharapkan semakin dikenal sebagai warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai dan daya tarik di tingkat dunia.