Ntvnews.id, Jakarta - Seorang pemimpin yang belum cukup matang mendadak memegang kekuasaan tertinggi. Para pejabat lama mulai disingkirkan. Orang-orang baru berebut pengaruh. Kesetiaan berubah menjadi pengkhianatan. Sementara mereka yang mengetahui terlalu banyak harus memilih antara mengungkapkan kebenaran atau menyelamatkan diri.
Intrik kekuasaan ternyata bukan cerita baru. Apa yang terasa akrab dalam politik hari ini seperti mengulang peristiwa delapan abad silam. Barangkali, kita memang tidak pernah benar-benar belajar dari sejarah.
Lebih dari 20 tahun menjadi jurnalis dan sewindu bekerja di lingkungan istana membuat saya tertarik melihat politik Majapahit dari sudut pandang yang berbeda: bukan dari mata penguasa atau panglima perang, melainkan dari seorang pujangga yang saya bayangkan sebagai jurnalis istana. Ia mengamati, mendengar, mencatat, dan mengetahui banyak hal yang tak semuanya boleh dituliskan.
Dari kegelisahan itulah saya menulis sebuah novel politik dalam balutan sejarah, tentang intrik Majapahit, ambisi menyatukan Nusantara, dan rahasia kekuasaan yang disaksikan Mpu Prapanca.
PRAPANCA: PUPUH TERAKHIR MAJAPAHIT
PETA PARA PEWARIS
Baca Juga: Mahasiswa Asal Papua Gembira Bertemu Prabowo di London, Berikan Karya Buku Terbarunya
Novel pertama saya kini telah terbit. Jika kawan-kawan berkenan memiliki dan membacanya, dukungan itu akan sangat berarti bagi saya.
Saya juga berharap kawan-kawan bersedia berbagi kesan, kritik, atau saran setelah membacanya. Silakan unggah tanggapan di media sosial dengan tagar :
#bacapetaparapewaris
agar saya bisa ikut membacanya. Sebab, mungkin dosa terbesar seorang pencatat sejarah bukanlah apa yang ia tuliskan, melainkan apa yang ia ketahui tetapi sengaja disembunyikan.
Penguasa Muda, Pengkhianatan Istana, dan Mereka yang Disingkirkan. Terdengar Akrab?