Adik Kim Jong Un Tegaskan Korut Tak Tertarik Dialog dengan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Nov 2026, 13:44
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korut Kim Jong Un, saat menghadiri upacara peletakan karangan bunga di Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam, 2 Maret 2019. ANTARA/Reuters/Jorge Silva/as. Arsip foto - Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korut Kim Jong Un, saat menghadiri upacara peletakan karangan bunga di Mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam, 2 Maret 2019. ANTARA/Reuters/Jorge Silva/as. (Antara)

Ntvnews.id, Pyongyang - Korea Utara memberi sinyal tidak memiliki keinginan untuk kembali membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat (AS). Hal tersebut disampaikan Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang menilai tidak ada alasan bagi Pyongyang untuk berunding dengan negara yang dianggap bermusuhan dan tidak dapat dipercaya.

Dilansir dari Channel News Asia, Kamis, 4 November 2026, pernyataan Kim Yo-jong tersebut semakin memperkecil peluang pertemuan antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya diharapkan berlangsung pada bulan ini.

Trump diketahui telah beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk kembali menjalin komunikasi dengan pemimpin Korea Utara tersebut.

Pernyataan Kim Yo-jong muncul setelah Biro Investigasi Federal AS (FBI) menuding Korea Utara terlibat dalam pencurian aset kripto senilai lebih dari US$6 miliar dari platform perdagangan mata uang kripto Binance. Tuduhan itu sebelumnya mendapat kecaman dari Kim Yo-jong yang menyebutnya sebagai "provokasi politik yang serius."

Baca Juga: JPU Pertanyakan soal Proses KKN Jokowi

Kim Yo-jong menegaskan Pyongyang tidak melihat adanya urgensi untuk melakukan perundingan dengan Washington selama negara tersebut masih mempertahankan kebijakan yang dianggap konfrontatif.

"Kami memiliki sikap yang jelas bahwa kami tidak perlu duduk berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak dapat dipercaya dan bermusuhan seperti itu, yang menolak meninggalkan kebijakan konfrontasi meskipun berbicara tentang dialog," ujar Kim Yo-jong, menurut kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA.

"Pilihan untuk mewujudkan perdamaian tentu mencakup dialog, tetapi hal itu tidak serta-merta sejalan dengan kepentingan nasional kami," tambahnya.

Lebih lanjut, Kim Yo-jong menuding Washington masih mempertahankan "kebijakan bermusuhan yang tidak berubah" terhadap Pyongyang. Ia merujuk pada tuduhan peretasan terhadap Binance, latihan militer bersama AS dan Korea Selatan, serta desakan Washington agar Korea Utara menghentikan pengembangan senjata nuklir.

Kim Yo-jong juga mengisyaratkan bahwa pemerintahnya berpotensi mengambil langkah balasan sebagai respons terhadap kebijakan AS tersebut.

"Dalam kenyataan saat ini, ketika rekor baru terus tercipta dalam penerapan kebijakan bermusuhan AS terhadap DPRK, wajar jika rekor baru juga tercipta dalam tindakan balasan kami," ujarnya, menggunakan singkatan nama resmi Korea Utara.

Meski demikian, Kim Yo-jong tidak menjelaskan secara terperinci bentuk tindakan balasan yang tengah dipertimbangkan Pyongyang.