Mojtaba Khamenei Soroti Kekalahan Trump di Pemilu Sela AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Nov 2026, 08:08
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menanggapi kekalahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersama Partai Republik dalam pemilihan umum sela atau midterm election yang berlangsung pada Selasa, 3 November 2026.

Ia menilai hasil pemilu tersebut menjadi sinyal semakin melemahnya pengaruh Washington di dunia.

Dalam pemilu sela tersebut, Partai Republik mengalami kekalahan dari Partai Demokrat yang berhasil mengamankan keunggulan dalam perebutan kursi Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Kongres AS.

"Kami berharap dominasi Setan Besar semakin cepat dan semakin pasti melemah," kata Khamenei dalam pernyataannya pada Rabu, 4 November 2026, merujuk kepada Amerika Serikat.

Dikutip dari Chosun Ilbo, pemerintah Iran selama ini kerap menyematkan julukan "Setan Besar" kepada AS. Sementara itu, Israel yang merupakan sekutu dekat Washington dijuluki sebagai "Setan Kecil".

Melalui unggahan di media sosial X, Khamenei juga menilai keputusan Trump memicu konflik dengan Iran justru menjadi bumerang bagi kepentingan Amerika. Menurutnya, kebijakan tersebut turut mempercepat kemerosotan dominasi AS di tingkat global.

"Saat ini, kekuatan dan hegemoni Amerika Serikat yang terus merosot telah mengalami kejatuhan yang tak dapat dipulihkan dalam kedua dimensi kekuasaannya: baik hard military power dan soft power internasionalnya," ujar Khamenei.

"Proses keruntuhan AS semakin cepat," ujarnya lagi.

Bukan hanya Khamenei, sejumlah pejabat tinggi Iran turut menyambut hasil pemilu sela AS yang berujung pada kekalahan kubu Trump.

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama negara tersebut, Mohammad Baqer Qalibaf, juga memberikan respons positif. Ia menilai hasil pemungutan suara menunjukkan masyarakat AS menolak kebijakan perang yang ditempuh pemerintahan Trump.

"Entah karena hati nurani atau biaya hidup, rakyat Amerika telah mengatakan TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini," tulis Qalibaf melalui akun X.

Qalibaf juga mengingatkan pemerintah AS agar tidak mengabaikan aspirasi masyarakatnya dengan kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

Sementara itu, sebuah media yang dikelola lembaga peradilan Iran turut membagikan sindiran yang sebelumnya ramai beredar di media sosial X.

"Trump gagal melakukan pergantian rezim di Iran, tetapi berhasil di Texas."

Sindiran tersebut merujuk pada Texas, negara bagian di wilayah selatan AS yang dikenal sebagai basis konservatif. Dalam pemilu kali ini, kandidat Partai Demokrat berhasil memenangkan pemilihan Senat di wilayah tersebut untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Respons positif terhadap hasil pemilu AS juga terlihat dalam demonstrasi yang digelar pemerintah Iran pada Rabu. Aksi tersebut sekaligus memperingati peristiwa pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran oleh mahasiswa saat Revolusi Islam 1979.

Dalam demonstrasi itu, warga Iran menyuarakan kemenangan atas hasil pemilu sela yang mereka kaitkan dengan keberhasilan negaranya bertahan menghadapi serangan AS selama berbulan-bulan.

"Fakta bahwa kekuatan Partai Republik yang gemar mengobarkan perang telah dipatahkan-sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia-berarti mulai sekarang kita akan menyaksikan perang sesungguhnya berlangsung di dalam Senat AS dan di kalangan pejabat Amerika," kata seorang demonstran yang hanya menyebutkan nama keluarganya, Nazari.

Di sisi lain, Trump secara terbuka mengakui kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela turut dipengaruhi oleh keputusannya membawa AS berperang melawan Iran.

Dalam wawancara dengan Fox News Democracy 26 pada Selasa, 3 November 2026, Trump sempat memberikan ucapan selamat kepada Partai Demokrat atas keberhasilan mereka memenangkan pemilu Kongres. Ia menyebut kemenangan tersebut sebagai pencapaian yang telah lama dinantikan partai oposisi.

"Yah, saya akan katakan ini: selamat kepada Partai Demokrat. Mereka melakukannya dengan baik," kata Trump dalam wawancara melalui telepon dengan Fox News, seperti dikutip AFP.

"Mereka telah menantikan momen ini selama 11 tahun, dan akhirnya mereka mendapatkannya. Namun, saya tidak menganggap ini sebagai masalah... Saya bisa bekerja sama dengan mereka dalam banyak hal," lanjutnya.

Trump kemudian menegaskan bahwa dirinya tetap memiliki kewenangan untuk menggunakan hak veto apabila terjadi perbedaan pandangan dengan Partai Demokrat di Kongres.

Berdasarkan penghitungan suara yang dilakukan New York Times, Partai Republik diproyeksikan memperoleh 44 kursi Senat, sedangkan Partai Demokrat meraih 54 kursi.

Sementara di DPR, Partai Republik diperkirakan hanya mendapatkan 139 kursi. Sebaliknya, Partai Demokrat diproyeksikan menguasai 228 kursi.

Kemenangan Demokrat juga mencatatkan hasil signifikan di sejumlah wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis pendukung Partai Republik, termasuk Kansas dan Texas.