Dari Italia, Menag Nasaruddin Bawa Pesan: Indonesia Jadi Contoh Moderasi Beragama

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Okt 2026, 09:18
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (Kemenag)

NTVNews.id, Jakarta - Pengalaman Indonesia dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman agama dan budaya mendapat perhatian dari komunitas internasional. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan, Indonesia kini kian dilirik sebagai contoh penerapan moderasi beragama setelah melakukan serangkaian pertemuan dengan tokoh agama dunia di Assisi, Italia.

Kunjungan kerja Menag ke Italia dan Vatikan tak hanya memperkuat diplomasi keagamaan Indonesia, tetapi juga menghasilkan sejumlah peluang kerja sama internasional. Beberapa negara, perguruan tinggi, hingga lembaga keagamaan menyatakan ketertarikan untuk menjalin kolaborasi dengan Kementerian Agama dan Masjid Istiqlal.

Nasaruddin menyampaikan hal tersebut setibanya di Tanah Air setelah menyelesaikan agenda kunjungan kerja ke Italia dan Vatikan, Kamis, 29 Oktober 2026.

Ia menyebutkan, sejumlah perwakilan negara yang menunjukkan minat untuk bekerja sama berasal dari Inggris, Australia, dan Pakistan.

Baca Juga: Pidato di Italia, Gagasan Diplomasi Agama Menag Nasaruddin Didukung Pemimpin Agama Dunia

"Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan," ujarnya.

Menurutnya, respons positif tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Indonesia dalam merawat kemajemukan dan membangun kehidupan beragama yang moderat semakin mendapat pengakuan di tingkat global.

"Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita," ungkapnya.

Selain membuka peluang kerja sama antarnegara, kunjungan Menag juga menghasilkan penjajakan kolaborasi di bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Nasaruddin mengungkapkan, dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan menyampaikan keinginan untuk membangun kerja sama dengan Indonesia. Kedua institusi tersebut tertarik mempelajari pengalaman Indonesia dalam menjaga persatuan dan keharmonisan masyarakat yang memiliki latar belakang agama berbeda.

"Ada dua universitas di Italia dan Vatikan itu mengajak kita kerja sama," katanya.

Salah satu institusi yang menunjukkan ketertarikan tersebut adalah PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d'Islamistica), atau Institut Kepausan untuk Studi Arab dan Islam, yang berada di bawah binaan Takhta Suci Vatikan.

Menag menilai, peluang kolaborasi ini dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola kehidupan masyarakat yang majemuk, sedangkan Vatikan mempunyai tradisi akademik dan kekayaan literatur keagamaan yang dapat menjadi sumber pembelajaran.

“Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” tuturnya.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Nasaruddin juga berkesempatan mendatangi perpustakaan Vatikan. Ia mengaku menemukan berbagai koleksi literatur Islam, termasuk kitab-kitab klasik yang relatif sulit dijumpai di Indonesia maupun sejumlah negara Timur Tengah.

Temuan tersebut semakin memperkuat pandangannya mengenai pentingnya pertukaran literatur, penelitian, dan dialog lintas tradisi keagamaan untuk memperluas wawasan serta mempererat hubungan antarbangsa.

Tidak hanya kerja sama pendidikan, gagasan Indonesia mengenai ekoteologi dan diplomasi keagamaan juga memperoleh perhatian dalam forum internasional di Assisi, Italia.

Menag mengatakan, materi yang disampaikan Indonesia mendapat apresiasi dari penyelenggara forum. Bahkan, gagasan tersebut direncanakan menjadi salah satu tema utama dalam agenda pertemuan internasional berikutnya.

"Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” jelasnya.

Baca Juga: Kemenag Keluarkan Surat Edaran Salat Istisqa Akibat Kekeringan dan Karhutla

Menag menyebut ketertarikan peserta forum tidak hanya tertuju pada gagasan diplomasi keagamaan, tetapi juga pada Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa di tengah keberagaman. Menurutnya, kesempatan berbicara yang semula dialokasikan selama tujuh menit bahkan berkembang menjadi sekitar 30 menit karena peserta ingin mengetahui lebih jauh pengalaman Indonesia.

“Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” ungkapnya.

Menag menambahkan, sejumlah gagasan kerja sama antarumat beragama yang sebelumnya dibangun melalui Masjid Istiqlal juga mendapat perhatian untuk ditindaklanjuti. Ia menyebut April tahun depan sebagai salah satu momentum kelanjutan pembahasan tersebut.

Dalam kunjungan itu, Menag juga diterima oleh Menteri Luar Negeri Vatikan. Keduanya membahas hubungan Indonesia dan Vatikan, terutama dalam memperkuat kerja sama serta menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Menurut Menag, pihak Vatikan memandang Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar sekaligus memiliki pengalaman penting dalam menjaga kehidupan beragama yang moderat. Ia mengatakan, salah satu titik temu yang menghubungkan Indonesia dan Vatikan adalah komitmen untuk membela kelompok masyarakat yang mengalami penindasan tanpa membedakan latar belakang agama.

“Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” tegasnya.

Menag berharap respons positif dari berbagai pihak selama kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama yang konkret, baik dalam bidang dialog antaragama, pendidikan, maupun penguatan diplomasi keagamaan.

“Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,” pungkasnya.