Korut Tembakkan 12 Rudal Balistik ke Laut Timur di Tengah Ketegangan dengan Korsel

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Okt 2026, 09:04
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninjau latihan militer yang dilakukan oleh tentara Korea Utara 10 Oktober 2022. Latihan tersebut dilaporkan mencakup peluncuran rudal balistik untuk menguji efektivitas kemampuan nuklir negara itu. Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninjau latihan militer yang dilakukan oleh tentara Korea Utara 10 Oktober 2022. Latihan tersebut dilaporkan mencakup peluncuran rudal balistik untuk menguji efektivitas kemampuan nuklir negara itu. (Antara)

Ntvnews.id, Pyongyang - Korea Utara kembali meluncurkan sekitar selusin rudal balistik jarak pendek ke arah Laut Timur pada Kamis, 29 Oktober 2026. Aksi militer tersebut terjadi ketika hubungan Pyongyang dengan Korea Selatan semakin memanas, meski Seoul sebelumnya telah menawarkan pembicaraan militer untuk meredakan ketegangan di wilayah perbatasan.

Peluncuran rudal itu berlangsung kurang dari sepekan setelah Korea Selatan mengajukan proposal dialog militer kepada Korea Utara guna membahas perselisihan di sepanjang perbatasan kedua negara.

Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan menyampaikan bahwa pihaknya mendeteksi peluncuran sekitar 12 rudal balistik jarak pendek dari wilayah Wonsan, Korea Utara, menuju Laut Timur yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.

"Militer kami telah meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan terhadap kemungkinan peluncuran tambahan," kata JCS Korea Selatan dalam pernyataannya, seperti dikutip The Straits Times, Jumat, 30 Oktober 2026.

Penjaga Pantai Jepang turut melaporkan adanya objek yang diduga merupakan rudal balistik hasil peluncuran Korea Utara. Objek tersebut diperkirakan telah jatuh ke laut.

Menanggapi kejadian itu, otoritas Jepang mengimbau kapal-kapal yang beraktivitas di sekitar lokasi untuk meningkatkan kewaspadaan.

Dalam beberapa waktu terakhir, Korea Utara juga mengintensifkan pengujian persenjataan. Sejumlah senjata yang diuji di antaranya sistem torpedo berpemandu presisi terbaru dan rudal hipersonik jarak menengah. Pyongyang mengklaim kedua teknologi tersebut telah memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Uji coba rudal pada Kamis, 29 Oktober 2026, terjadi di tengah memburuknya hubungan kedua Korea akibat insiden ranjau darat di kawasan perbatasan. Ledakan ranjau tersebut dilaporkan mengakibatkan tiga personel militer Korea Selatan mengalami luka-luka.

Hasil investigasi bersama yang dilakukan Korea Selatan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal Oktober menyebutkan bahwa ranjau tersebut telah dipasang oleh Korea Utara lebih dari satu tahun sebelumnya.

Pemerintah Seoul kemudian menuding Pyongyang melakukan "pelanggaran nyata terhadap Perjanjian Gencatan Senjata" dan meminta Korea Utara kembali membuka ruang dialog.

Namun, tawaran pembicaraan yang sebelumnya disampaikan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung justru mendapat respons negatif dari Pyongyang.

Baca Juga: Korea Selatan Mau Dialog Damai dengan Korea Utara

Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan, bahkan menyebut inisiatif dialog tersebut sebagai "puncak dari sandiwara".

Pada pekan lalu, Seoul kembali mengajukan pembicaraan militer dengan Pyongyang. Pemerintah Korea Selatan menginginkan kedua negara "saling memastikan lokasi pasti" garis perbatasan sekaligus membicarakan kemungkinan mengaktifkan kembali jalur komunikasi militer.

Akan tetapi, hingga saat ini Korea Utara belum memberikan jawaban atas usulan tersebut.

Wilayah Zona Demiliterisasi atau Demilitarized Zone (DMZ) yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan dikenal sebagai salah satu kawasan perbatasan dengan pengamanan paling ketat di dunia. Perselisihan terkait ranjau darat di wilayah tersebut juga berulang kali menjadi pemicu konflik antara kedua negara.

Secara hukum, Korea Utara dan Korea Selatan sebenarnya masih berada dalam kondisi perang. Konflik bersenjata yang berlangsung selama Perang Korea berakhir pada 1953 melalui kesepakatan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian.

Ketegangan di Semenanjung Korea juga dipengaruhi pendekatan diplomatik Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Pyongyang. Kebijakan Washington tersebut memunculkan kekhawatiran di Seoul bahwa Korea Selatan sebagai sekutu AS berpotensi tidak dilibatkan dalam pembicaraan mengenai program nuklir Korea Utara.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump terlihat mengurangi kemungkinan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Kim Jong Un. Meski demikian, Presiden AS itu tetap menggambarkan hubungannya dengan pemimpin Korea Utara tersebut sebagai "sangat baik".

Sebelumnya, pada Oktober, Korea Utara juga meluncurkan sejumlah rudal balistik jarak pendek sehari setelah Trump menyampaikan isyarat kemungkinan bertemu Kim Jong Un pada 2026.