Korea Selatan Mau Dialog Damai dengan Korea Utara

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 08:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Tentara Korea Selatan berjaga selama tur media di Daerah Keamanan Bersama (JSA) di Zona Demiliterisasi (DMZ) di desa perbatasan Panmunjom di Paju, Korsel, pada 3 Maret 2023. Tentara Korea Selatan berjaga selama tur media di Daerah Keamanan Bersama (JSA) di Zona Demiliterisasi (DMZ) di desa perbatasan Panmunjom di Paju, Korsel, pada 3 Maret 2023. (Antara)

Ntvnews.id, Seoul - Korea Selatan menegaskan komitmennya untuk kembali membuka dialog dengan Korea Utara demi menciptakan hubungan bertetangga yang damai. Upaya tersebut dilakukan untuk membangun kembali komunikasi antara kedua negara yang telah lama terhenti.

Dilansir dari Yonhap, Senin, 19 Oktober 2026, Perdana Menteri Korea Selatan Han Seong-sook menyatakan pemerintah Seoul akan menyiapkan landasan bagi dimulainya kembali perundingan dengan Pyongyang.

“Upaya akan dilakukan untuk membuka pintu dialog antara Korea Selatan dan [Korea Utara] serta menggelar pembicaraan mengenai perdamaian dan kemakmuran bersama,” kata Han.

Han mengakui bahwa perpecahan di Semenanjung Korea masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Ia juga menyoroti penderitaan warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya serta keluarga yang terpisah akibat konflik berkepanjangan.

“Upaya kita untuk membuka jalan menuju hidup berdampingan secara damai antara Korea Selatan dan Korea Utara tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara sebelumnya sempat menunjukkan perkembangan positif melalui penandatanganan Deklarasi Panmunjom pada April 2018. Kesepakatan yang ditandatangani di desa gencatan senjata Panmunjom itu menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya memperbaiki hubungan kedua negara.

Baca Juga: Perselisihan soal Tawanan Korut Memanas, Korea Selatan Tarik Dubes dari Ukraina

Namun, hingga kini, kedua negara secara teknis masih berada dalam kondisi perang. Konflik Korea yang berlangsung pada 1950–1953 berakhir melalui kesepakatan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian permanen.

Sejak menjabat sebagai presiden pada Juni 2025, Lee Jae Myung mengubah pendekatan Seoul terhadap Pyongyang dibandingkan dengan kebijakan pemerintahan sebelumnya di bawah Yoon Suk Yeol.

Sejumlah kebijakan ditempuh untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur komunikasi. Di antaranya, menghentikan siaran melalui pengeras suara yang diarahkan ke wilayah Korea Utara serta melarang aktivis menerbangkan balon berisi pesan antipemerintah Pyongyang melintasi perbatasan.

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintahan Lee untuk memperbaiki hubungan antar-Korea setelah saluran komunikasi kedua pihak terhenti selama pemerintahan Yoon.

Melalui upaya diplomatik tersebut, Seoul berharap dialog dapat kembali berlangsung dan membuka peluang bagi terciptanya perdamaian serta kemakmuran bersama di Semenanjung Korea.

x|close