Trump Mau Bertemu Kim Jong-un Bulan Depan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Okt 2026, 16:24
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan dua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, Minggu 30 Juni 2019. /ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa. Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan dua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan, Minggu 30 Juni 2019. /ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan terbuka terhadap kemungkinan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat melakukan kunjungan ke Asia pada November 2026.

"Saya mungkin akan bertemu, ya. Itu akan menarik, bukan? Namun, saya memiliki hubungan yang baik dengannya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Senin, 12 Oktober 2026.

Apabila pertemuan tersebut terealisasi, hal itu berpotensi menjadi langkah baru dalam upaya Trump membangun komunikasi langsung dengan Kim. Keduanya sebelumnya telah mengadakan sejumlah pertemuan bersejarah pada periode pertama pemerintahan Trump untuk membahas program persenjataan nuklir Korea Utara.

Dilansir dari TRT World, Selasa, 13 Oktober 2026, Trump dijadwalkan bertolak ke Filipina untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada 16 November 2026. Setelah itu, ia akan melanjutkan perjalanan ke Shenzhen, Tiongkok, guna menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang berlangsung pada 17–19 November.

Trump dan Kim pertama kali bertemu dalam KTT Singapura pada 12 Juni 2018. Pertemuan yang berlangsung di Hotel Capella, Pulau Sentosa, tersebut menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya presiden AS yang masih menjabat bertatap muka dengan pemimpin Korea Utara.

Dalam pertemuan itu, keduanya berjabat tangan, melakukan pembicaraan tertutup, dan menandatangani pernyataan bersama. Kesepakatan tersebut mencakup komitmen untuk mengupayakan denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea, membentuk hubungan baru antara Washington dan Pyongyang, serta mewujudkan rezim perdamaian yang berkelanjutan.

Pertemuan tersebut berlangsung setelah hubungan kedua negara memanas sepanjang 2017 akibat serangkaian uji coba rudal dan saling ancam. Situasi itu kemudian berangsur menuju jalur diplomasi setelah Washington dan Pyongyang menyepakati pembicaraan langsung pada awal 2018.

Baca Juga: Trump Mau Ganti Nama Samudra Atlantik-Pasifik, Usulkan Jadi Samudra Trump

Meski menjadi terobosan dalam diplomasi kedua negara, KTT Singapura belum menghasilkan kesepakatan denuklirisasi yang mengikat secara hukum. Trump dan Kim kemudian kembali bertemu dalam pertemuan kedua di Hanoi, Vietnam, pada Februari 2019.

Namun, perundingan di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan. Kedua pemimpin tidak berhasil menemukan titik temu terkait pelonggaran sanksi terhadap Korea Utara dan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menangani program nuklir negara tersebut.

Pada 30 Juni 2019, Trump dan Kim kembali bertemu untuk ketiga kalinya di Zona Demiliterisasi (DMZ), Panmunjom, yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan.

Dalam pertemuan tersebut, Trump sempat melangkahkan kaki ke wilayah Korea Utara. Aksi itu menjadikannya presiden AS pertama yang memasuki wilayah negara tersebut saat masih menjabat. Keduanya juga menyepakati dimulainya kembali perundingan yang sebelumnya terhenti.

Pernyataan terbaru Trump mengenai kemungkinan bertemu Kim disampaikan sehari setelah Korea Utara meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah Laut Timur.

Militer Korea Selatan mengonfirmasi bahwa rudal-rudal tersebut diluncurkan dari wilayah Pyongyang. Aksi itu diperkirakan berkaitan dengan keberhasilan Korea Selatan menguji kendaraan luncur hipersonik pada pekan sebelumnya.

x|close