Jerman Tegaskan Dukung Zelensky, Kritik Desakan Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Okt 2026, 08:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat, 18 Agustus 2025. Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat, 18 Agustus 2025. (Antara)

Ntvnews.id, Berlin - Pemerintah Jerman menegaskan tetap memberikan dukungan penuh kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di tengah kritik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendesak pergantian kepemimpinan di Kyiv. Berlin juga meminta tekanan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin ditingkatkan agar bersedia menempuh jalur perundingan untuk mengakhiri perang.

Dilansir dari AFP, Selasa, 13 Oktober 2026, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul  menegaskan bahwa stabilitas Eropa berkaitan erat dengan dukungan berkelanjutan terhadap Ukraina dan pemerintahannya.

"Eropa membutuhkan stabilitas, dan itu berarti kami akan terus berdiri di pihak Ukraina dan pemerintahnya dengan sangat tegas," ujar Wadephul di Berlin.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Jerman Karin Prien melontarkan kritik keras terhadap Trump. Dikutip dari kantor berita dpa, Prien menyoroti desakan Presiden AS agar Ukraina mengganti pemimpinnya serta kesepakatan pembelian bahan bakar diesel dari Rusia.

"Hanya untuk beberapa liter solar. Sungguh kebangkrutan moral," tulis Prien di platform X pada Sabtu, 10 Oktober 2026 malam, mengomentari pernyataan Trump.

Sebelumnya, Trump menyalahkan Zelenskyy atas kegagalan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina. Ia menilai pemimpin Ukraina tersebut menjadi penghambat perundingan, bukan Putin.

Baca Juga: Trump Klaim Rusia-Ukraina Sepakati Gencatan Energi, Zelensky Mengaku Tak Tahu

"Entah karena alasan apa, Zelenskyy tidak ingin membuat kesepakatan," kata Trump kepada para wartawan.

Trump merujuk pada percakapan teleponnya dengan Putin pada Jumat (9/10). Ia mengklaim pemimpin Rusia itu menginginkan perang segera berakhir melalui sebuah kesepakatan.

Trump meyakinkan bahwa Presiden Rusia tersebut "ingin sekali melihat tercapainya suatu kesepakatan, dan hal itu mendesak untuk dilakukan".

Selain mempersoalkan perundingan damai, Trump mengkritik Zelenskyy karena belum menyelenggarakan pemilihan presiden sejak invasi Rusia dimulai pada 2022.

"Menurut saya, ia seharusnya menyelenggarakan pemilihan presiden, dan ia sebenarnya sudah bisa menyelesaikan persoalan ini berkali-kali sebelumnya."

Perselisihan atas Kesepakatan Bahan Bakar Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan) bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. <b>(Antara)</b> Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan) bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Antara)

Ketegangan antara Trump dan Zelenskyy juga dipicu kesepakatan pasokan bahan bakar diesel antara Washington dan Moskow. Kesepakatan itu diumumkan pada Jumat, 9 Oktober 2026, ketika sanksi terhadap Rusia masih berlaku.

Trump, yang menghadapi tekanan akibat tingginya harga bahan bakar di Amerika Serikat, menyatakan Rusia akan memasok ratusan ribu ton bahan bakar diesel. Dalam beberapa waktu terakhir, ia juga berulang kali mengkritik serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia.

Setelah Zelenskyy menyampaikan kritik keras terhadap kesepakatan tersebut, Trump mendesak agar kepemimpinan Ukraina diganti.

"Sudah waktunya bagi Ukraina untuk mendapatkan presiden baru" yang bersedia mengakhiri perang dengan Rusia, kata Trump.

Sebagai respons terhadap kesepakatan tersebut, Jerman, Uni Eropa, dan Inggris menegaskan komitmen mereka untuk mempertahankan sanksi terhadap Rusia. Kebijakan itu ditujukan untuk membatasi sumber pendanaan Moskow yang digunakan dalam operasi militernya di Ukraina.

Ukraina Tolak Campur Tangan Asing

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menolak desakan Trump agar terjadi pergantian kepemimpinan di Kyiv. Melalui platform X, Sybiha menegaskan bahwa Zelenskyy memperoleh dukungan dari rakyat Ukraina dan bahwa keputusan mengenai pemimpin negara merupakan hak rakyatnya sendiri.

"Pernyataan-pernyataan dari luar negeri hanya menegaskan bahwa ia (Zelenskyy) menjalankan tugasnya dengan baik. Ia layak mendapatkan dukungan," tulis Sybiha.

Kritik terhadap pernyataan Trump juga disampaikan Ketua Komite Pertahanan di Parlemen Eropa, Marie-Agnes Strack-Zimmermann. Ia menilai desakan agar Zelenskyy mundur justru berpotensi memperkuat posisi Putin.

"Jika Trump mendesak Zelenskyy untuk mengundurkan diri, ia secara tegas menempatkan dirinya di pihak sang pembunuh," kata Strack-Zimmermann.

Dalam wawancara dengan surat kabar Tagesspiegel yang berbasis di Berlin, politikus Jerman tersebut menegaskan bahwa penentuan kepemimpinan Ukraina tidak boleh ditentukan oleh negara lain.

"Yang berhak menentukan kepemimpinan Ukraina hanyalah rakyat Ukraina sendiri melalui pemilihan umum yang bebas, bukan Gedung Putih, dan terlebih lagi bukan Kremlin," ujar politikus Jerman tersebut kepada surat kabar Tagesspiegel yang berbasis di Berlin.

Strack-Zimmermann juga menilai serangkaian pernyataan Trump yang menyerang sekutu dan lembaga demokrasi dapat melemahkan negara-negara Barat sekaligus merusak demokrasi. Menurutnya, pandangan serupa juga dianut banyak warga Amerika Serikat.

"Oleh karena itu, Eropa harus tetap berpegang teguh pada arah kebijakannya yang jelas dan terus mendukung Ukraina. Untuk saat ini, Amerika Serikat bukanlah pihak yang dapat diandalkan," lanjut Strack-Zimmermann.

Sikap Berlin tersebut menegaskan bahwa Jerman tetap berpihak pada Ukraina di tengah perbedaan pandangan dengan Washington mengenai cara mengakhiri perang. Pemerintah Jerman juga menekankan pentingnya mempertahankan tekanan terhadap Rusia dan menghormati hak rakyat Ukraina dalam menentukan masa depan politik negaranya.

x|close