Ntvnews.id, Tepi Barat - Israel memberlakukan penutupan komprehensif Tepi Barat, termasuk menghentikan akses melalui sejumlah perlintasan menuju wilayah tersebut. Kebijakan itu dilaporkan kantor berita resmi Palestina Wafa, dikutip Senin, 28 September 2026.
Penutupan tersebut direncanakan berlangsung hingga Sabtu, 3 Oktober 2026. Menurut laporan Wafa, otoritas Israel menyatakan kebijakan itu diberlakukan bertepatan dengan perayaan hari raya Yahudi Sukkot atau Feast of Tabernacles.
Penerapan penutupan tersebut juga disertai peningkatan pembatasan militer di pos pemeriksaan serta sejumlah penghalang jalan. Kondisi itu membatasi mobilitas warga Palestina, termasuk akses menuju tempat-tempat suci.
Pasukan Israel turut memperketat pembatasan di kawasan Ramallah dan Al-Bireh pada Minggu. Sejumlah ruas jalan dan akses masuk ditutup, sementara warga Palestina dilaporkan menghadapi tindakan intimidasi, berdasarkan laporan Wafa.
Baca Juga: Putra Dubes Israel untuk AS Terluka Parah dalam Insiden Tabrak Lari di Tepi Barat
Wafa juga melaporkan pasukan Israel menutup akses menuju Turmus Ayya, Aboud, Nabi Saleh, Atara, dan Taybeh. Pos pemeriksaan kemudian didirikan di Yabroud, Ein Sinya, dan Jaba’ untuk melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan serta identitas warga Palestina, berdasarkan keterangan sumber lokal yang dikutip Wafa.
Kebijakan tersebut diberlakukan ketika operasi militer Israel dan serangan oleh pihak yang disebut Wafa sebagai pendudukan di Tepi Barat terus meningkat sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023.
Berdasarkan data resmi Palestina, sedikitnya 1.206 warga Palestina, termasuk 254 anak-anak, dilaporkan tewas. Selain itu, sekitar 13.350 orang mengalami luka-luka dan lebih dari 24.600 warga Palestina ditangkap dalam periode tersebut.
Arsip - Ekskavator Israel membongkar rumah warga Palestina di desa Deirat, timur Masafer Yatta, di kota Hebron, Tepi Barat selatan Senin, 4 Mei 2026. (Antara)