Araghchi Sebut Pembukaan Selat Hormuz Bergantung pada Persetujuan AS dalam Sepekan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Sep 2026, 10:10
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (tengah) mengikuti Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (22/9/2026). Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (tengah) mengikuti Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (22/9/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya siap membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dalam kurun waktu tujuh hari. Syaratnya, Amerika Serikat bersedia menerima proposal damai yang telah disampaikan pihak Iran melalui perantara Qatar.

Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi kepada awak media di sela-sela Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Jumat (25/9). Ia merinci bahwa hitungan tujuh hari itu akan dimulai seketika pemerintah AS resmi menyetujui usulan tersebut.

Dalam skenario yang dipaparkan, AS dapat mulai mengeksekusi langkah-langkah konkret pada empat hingga lima hari pertama. Melalui proses itu, jalur vital tersebut diproyeksikan sudah bisa kembali beroperasi normal pada hari keenam, yang kemudian disusul dengan perundingan kesepakatan final pada hari ketujuh.

Araghchi menegaskan bahwa poin-poin penindakan yang diharapkan dari Washington sebenarnya telah termaktub secara jelas dalam nota kesepahaman yang disepakati di Islamabad pada Juni lalu.
 

"Jika ada keseriusan dari pihak AS untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, semuanya kini sudah siap," ucap Araghchi.

Di sisi lain, Iran menegaskan komitmennya terhadap stabilitas keamanan pelayaran di kawasan strategis tersebut. Meski demikian, Teheran melayangkan kritik dengan menuding AS kerap mencederai komitmen kesepakatan lewat berbagai intervensi militer susulan.

Menutup keterangannya, Araghchi memastikan bahwa pintu diplomasi dari pihak Iran masih terbuka lebar. Kendati demikian, mereka menuntut adanya jaminan keamanan yang kredibel agar potensi agresi susulan dari militer AS dapat dicegah sebelum meja perundingan baru kembali dibuka.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close