Trump Ubah Nama AI Jadi "SI", Ini Alasan dan Kontroversinya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Sep 2026, 10:00
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan yang menarik perhatian. 

Kali ini bukan soal nama wilayah atau badan air, melainkan istilah untuk teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip Phone Arena, Kamis (24/9/2026), dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump mengatakan AI seharusnya memiliki nama baru, yakni "Super Intelligence" (SI) atau kecerdasan super.

Mengapa Trump ingin AI disebut SI?

Trump menilai istilah "artificial" atau "buatan" membuat kecerdasan terdengar seolah-olah tidak nyata. Menurutnya, istilah "super" lebih menggambarkan kemampuan teknologi tersebut.

Trump bahkan mengatakan seluruh dokumen pemerintah AS ke depan akan menggunakan istilah SI sebagai pengganti AI.

"Penggunaan kata 'buatan' membuat kecerdasan terdengar palsu. Itu bukan palsu. Sebenarnya itu luar biasa," kata Trump dalam pernyataannya.

Menurut Trump, istilah Super Intelligence terdengar lebih tepat untuk menggambarkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Namun, ada persoalan lain. Istilah superintelligence sebenarnya sudah digunakan dalam dunia AI untuk merujuk pada bentuk kecerdasan yang kemampuannya melampaui manusia.

Konsep tersebut bahkan menjadi salah satu tujuan jangka panjang sejumlah perusahaan AI, sekaligus sumber kekhawatiran para peneliti mengenai potensi risiko AI yang sangat canggih.

Kekhawatiran soal AI superintelligence

Salah satu peringatan datang dari mantan peneliti keamanan AI Anthropic, Jacob Coxon. 

Dia sebelumnya menulis di mana sejumlah peneliti yang mengembangkan superintelligence memperkirakan AI yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan risiko sangat serius bagi umat manusia.

Kekhawatiran tersebut bukan sepenuhnya bersifat hipotetis. Dalam beberapa pengujian, agen AI telah menunjukkan kemampuan melakukan tindakan yang tidak direncanakan ketika diberikan akses ke sistem komputer dan internet.

Baca Juga: Realme 16 Pro Edisi Harry Potter Bocor, Tampil dengan Nuansa Hogwarts yang Magis

OpenAI sebelumnya pernah mengungkap adanya agen AI yang mencoba melewati pengamanan dalam proses pengujian. 

Sementara itu, Google juga mengungkap model Gemini pernah mengakses sistem komputer perusahaan nyata setelah kesalahan konfigurasi dalam sebuah pengujian memberikan akses internet kepada agen AI.

Dalam kasus Google, model tersebut dilaporkan menghentikan tindakannya setelah menyadari sistem yang diakses berada di dunia nyata, bukan bagian dari simulasi.

Trump ingin AS unggul dalam perlombaan AI

Di tengah kekhawatiran mengenai perkembangan AI, Trump lebih banyak menyoroti persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.

Menurut Trump, AS harus memastikan dirinya tetap unggul dalam pengembangan AI. Dia juga menegaskan kegagalan memenangkan perlombaan AI dapat menempatkan AS dalam posisi yang sulit.

Pemerintah AS sebelumnya telah membatasi akses China terhadap sejumlah chip AI canggih buatan NVIDIA sebagai bagian dari kebijakan teknologi dan persaingan strategis kedua negara.

Trump juga mengatakan pemerintah AS tidak akan menerapkan regulasi yang dianggap menghambat perkembangan AI hingga 2029.

AI atau SI?

Perubahan istilah yang diusulkan Trump tidak serta-merta mengubah pengertian teknis AI. 

Dalam dunia teknologi, artificial intelligence (AI) tetap menjadi istilah yang digunakan secara luas untuk merujuk pada sistem komputer yang mampu menjalankan tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan kognitif manusia.

Sementara itu, superintelligence memiliki pengertian yang lebih spesifik, yaitu konsep AI dengan kemampuan yang melampaui manusia dalam berbagai bidang.

Karena itu, penggunaan istilah SI oleh Trump berpotensi menimbulkan perbedaan makna dengan terminologi yang selama ini digunakan para peneliti dan perusahaan teknologi.

Di sisi lain, Trump menyatakan AS akan tetap berhati-hati terhadap perkembangan teknologi tersebut. 

Dalam unggahannya di Truth Social, dia mengatakan pemerintah AS akan mengendalikan keadaan jika diperlukan, sembari tetap mendorong pertumbuhan AI atau SI.

Dengan perkembangan teknologi AI yang semakin cepat, perdebatan mengenai istilah, regulasi, keamanan, dan batas pengembangannya diperkirakan akan terus menjadi perhatian pemerintah dan perusahaan teknologi di berbagai negara.

x|close