Iran Tuduh AS Gunakan Taktik Hitler, Apa Itu?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Sep 2026, 10:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. (ANTARA)

Ntvnews.id, Taheran - Iran menuding Amerika Serikat (AS) menerapkan taktik yang pernah digunakan pemimpin Nazi Adolf Hitler setelah Washington menyalahkan Teheran atas kenaikan harga bahan bakar di AS.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengkritik pernyataan pejabat AS yang mengaitkan kenaikan harga bahan bakar di negaranya dengan Iran.

Baghaei mempertanyakan alasan pemerintah AS justru menempatkan Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab. Menurut dia, krisis tersebut muncul setelah AS memulai perang pada Februari lalu yang kemudian berdampak pada penutupan Selat Hormuz dan terganggunya aktivitas pelayaran komersial.

"Para pejabat AS menyalahkan Iran atas kenaikan harga bahan bakar, seolah-olah ingatan publik begitu pendek hingga lupa siapa sebenarnya yang memulai perang agresi, dan tindakan yang memicu krisis hingga berujung pada penutupan Selat Hormuz serta terganggunya pelayaran komersial," tulis Baghaei melalui akun X.

Baca Juga: AS Buka Pintu bagi Iran untuk Kembali Berunding

Baghaei selanjutnya membandingkan sikap AS yang menyalahkan Iran dengan strategi propaganda Adolf Hitler ketika Jerman menginvasi Polandia pada 1939.

"Namun, ini bukanlah taktik baru. Pada tahun 1939, Hitler melakukan hal serupa dengan melabeli invasinya ke Polandia sebagai tindakan defensif," tulis Baghaei.

Baghaei juga menyebut kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai gambaran dari konsep The March of Folly. Istilah tersebut merujuk pada buku karya Barbara W. Tuchman yang mengulas kondisi ketika pemerintah menerapkan kebijakan yang justru bertentangan dengan kepentingannya sendiri.

"Ketika pihak yang memicu 'perang pilihan' yang melanggar hukum, justru menyalahkan korbannya atas dampak yang timbul, patutkah hal ini dipandang sebagai kecemerlangan strategis? Atau ini sekadar gejala klasik dari 'The March of Folly'," tulis Baghaei.

TERKINI

Iran Tuduh AS Gunakan Taktik Hitler, Apa Itu?

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 10:50 WIB

Inggris Siapkan Dukungan Militer untuk Saudi Hadapi Houthi

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 10:35 WIB

Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Ada Syaratnya

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 10:25 WIB

2 Penumpang Baku Hantam di Kabin Pesawat, Penumpang Panik

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 10:10 WIB

AS Bakal Bangun 2 Pangkalan Militer di Greenland

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 10:10 WIB

Donny Oskaria Tegaskan Manajer Kopdes Bukan Pegawai BUMN

Nasional Rabu, 23 Sep 2026 | 10:08 WIB

SIM Keliling Jakarta Buka di 5 Lokasi Hari Ini

Metro Rabu, 23 Sep 2026 | 09:53 WIB

Trump Puji Wali Kota New York Punya Potensi Luar Biasa

Luar Negeri Rabu, 23 Sep 2026 | 09:50 WIB
Load More
x|close