Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mempertanyakan cara delegasi Iran yang menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York kembali ke negaranya.
Dilansir dari Anadolu Agency, Jumat, 25 September 2026, pertanyaan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan larangan terhadap seluruh maskapai Iran untuk beroperasi di berbagai negara sebagai bagian dari sanksi baru yang menyasar Teheran.
"Melalui Operasi Economic Outcast, kami saat ini memberikan tekanan kepada Iran dengan intensitas yang belum pernah mereka alami sebelumnya," kata Bessent.
Bessent mengatakan kebijakan tersebut telah memengaruhi konektivitas penerbangan internasional Iran. Ia mengklaim sekitar 80 hingga 90 persen penerbangan internasional dari Iran telah terhenti akibat sanksi baru yang diterapkan Amerika Serikat.
Ia juga memperingatkan lembaga keuangan, perusahaan, serta pelaku usaha asing yang masih melakukan hubungan bisnis dengan Iran akan menjadi sasaran kebijakan Washington.
"Kami telah menyampaikan dengan sangat jelas kepada seluruh dunia, baik kepada para penyandang dana, pihak-pihak yang berbisnis maupun mereka yang memasok kebutuhan Iran, bahwa kami tahu siapa kalian, dan kalian sendiri tahu siapa kalian," katanya seperti dikutip Anadolu Agency.
Baca Juga: Ikan Piranha Ditemukan di Bendungan Malaysia
Menurut Bessent, strategi yang dijalankan AS merupakan kombinasi dari operasi militer, blokade laut, serta tekanan terhadap sektor keuangan Iran.
"Jadi, kami telah menjalankan operasi militer selama enam minggu. Kami memiliki blokade. Dan sekarang kami melancarkan upaya yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk mempersempit ruang gerak mereka dan memutus aliran dana yang menjadi sumber kehidupan finansial mereka," katanya.
Bessent menyebut tekanan dan sanksi yang diterapkan Washington terhadap Teheran dapat terus berlangsung dalam beberapa pekan hingga berbulan-bulan mendatang.
Ia mengatakan terdapat tiga kemungkinan hasil yang diinginkan AS dari rangkaian tekanan tersebut. Ketiganya yakni munculnya perpecahan di internal kepemimpinan Iran, pemberontakan dari masyarakat Iran, atau tercapainya kesepakatan yang membuat Teheran memenuhi komitmen yang telah ditentukan.
Bessent juga mengklaim Amerika Serikat telah berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran pada awal tahun ini. Namun, ia menuduh Teheran justru meningkatkan serangan di kawasan Selat Hormuz.
"Jika kesepakatan tercapai, saya jamin mereka akan mematuhinya," katanya.
Amerika Serikat meluncurkan Operasi Economic Outcast pada Agustus sebagai bagian dari kampanye untuk mengisolasi Iran secara ekonomi. Kebijakan tersebut menyasar perusahaan, lembaga keuangan, serta berbagai entitas yang dinilai membantu Teheran menghindari sanksi AS.
Sejak operasi tersebut dimulai, Kementerian Keuangan AS memperluas sasaran dengan menyasar jaringan penerbangan Iran, institusi keuangan, hingga infrastruktur yang berkaitan dengan mata uang kripto.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian (Istimewa)