Banyak Bank Eropa Mulai Tarik Cadangan Emas dari AS, Ada Apa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Sep 2026, 09:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Ilustrasi emas batangan. (Antara) Ilustrasi emas batangan. (Antara)

Ntvnews.id, New York - Fort Knox di Kentucky selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu fasilitas dengan sistem keamanan paling ketat di Amerika Serikat (AS). Kompleks tersebut menjadi lokasi penyimpanan sekitar separuh cadangan emas pemerintah AS dan bahkan melahirkan istilah "seaman Fort Knox" untuk menggambarkan sesuatu yang sangat aman.

Namun, anggapan bahwa AS merupakan lokasi paling aman untuk menyimpan emas perlahan mulai berubah.

Dilansi dari DW, Senin, 14 September 2026, Bank sentral Belanda baru-baru ini memindahkan sekitar 86 ton emas dari New York ke London. Langkah tersebut menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran sejumlah pemerintah mengenai penyimpanan aset strategis di AS, terutama terkait kemungkinan akses terhadap aset tersebut ketika terjadi kondisi darurat atau krisis.

De Nederlandsche Bank (DNB), bank sentral Belanda, menyebut "gejolak geopolitik" sebagai salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan tersebut. DNB juga mengatakan diversifikasi lokasi penyimpanan emas ke sejumlah yurisdiksi dapat memperkuat "kesiapan menghadapi krisis".

Langkah serupa sebelumnya dilakukan Prancis. Negara tersebut menarik seluruh cadangan emas yang masih tersimpan di Federal Reserve Bank of New York selama periode Juli 2025 hingga Januari 2026.

Meski demikian, Gubernur Bank of France François Villeroy de Galhau saat itu menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak didasari pertimbangan politik.

Seruan untuk memindahkan cadangan emas dari AS juga muncul dari sejumlah politikus Jerman dan Italia. Kedua negara tersebut masing-masing memiliki cadangan emas terbesar kedua dan ketiga di dunia.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dianggap sulit diprediksi. Sikap Washington yang semakin berseberangan dengan Uni Eropa, termasuk pernyataan terkait kemungkinan mengambil alih sebagian wilayah Greenland, turut menambah kekhawatiran sejumlah negara Eropa.

Demam Emas

Sebastien Tillett, analis Oxford Economics, menilai kemungkinan bank sentral Eropa mengalami penyitaan aset secara langsung merupakan "risiko yang sangat kecil". Namun, dia melihat kekhawatiran mengenai akses terhadap aset semakin besar seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

"Kekhawatiran yang lebih relevan adalah bahwa aset yang disimpan di yurisdiksi lain bisa tidak dapat diakses untuk sementara waktu dalam situasi ekstrem yang melibatkan sanksi, persoalan hukum, atau geopolitik," ujarnya kepada DW.

Baca Juga: 3 Pegawai Pemkab Jayawijaya Dibunuh KKB, DPR Desak Pemasok Senjata Diusut

Sementara itu, Krishnan Gopaul dari World Gold Council mengatakan bank sentral di berbagai negara telah meningkatkan pembelian emas sejak krisis keuangan global 2008. Pada saat yang sama, perhatian terhadap lokasi dan mekanisme penyimpanan emas juga semakin besar.

Tren tersebut ikut mendorong harga emas hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Survei terbaru World Gold Council mencatat bank-bank sentral di seluruh dunia mengakumulasi rata-rata sekitar 1.000 ton emas setiap tahun selama empat tahun terakhir. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan rata-rata pembelian sekitar 500 ton per tahun dalam satu dekade sebelumnya.

Gopaul mengatakan emas semakin dianggap sebagai aset yang memberikan rasa aman setelah dunia melewati krisis keuangan global 2008, krisis utang negara-negara zona euro, berbagai gejolak politik, pandemi, hingga konflik dan ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.

"Selama dua dekade terakhir, selalu ada pertanyaan dan kekhawatiran mengenai sistem keuangan global dan kondisi geopolitik dalam berbagai bentuk," katanya.

Keputusan Belanda dan Prancis mengurangi penyimpanan emas di AS dan membawa sebagian aset tersebut kembali ke Eropa menunjukkan munculnya perhatian yang lebih besar terhadap lokasi penyimpanan emas. Tujuannya agar cadangan tersebut dapat segera digunakan apabila terjadi krisis.

Cadangan emas fisik milik bank sentral, pemerintah, dan dana kekayaan negara memang tersebar di berbagai lokasi. Proses pemindahan emas tidak mudah karena membutuhkan biaya besar, prosedur kompleks, serta menghadirkan sejumlah risiko.

Selain itu, lokasi penyimpanan juga memengaruhi seberapa cepat emas dapat dijual atau ditukar dengan mata uang maupun aset lainnya.

"Selain memperhatikan jenis aset yang mereka miliki, bank-bank sentral kini juga semakin memperhatikan di mana cadangan mereka disimpan, terutama untuk memaksimalkan ketahanan dan fleksibilitas cadangan tersebut," kata Tillett.

Gopaul menilai pengelolaan cadangan emas saat ini menjadi "sangat penting". Menurutnya, pemindahan emas bukan semata-mata dilakukan untuk menghindari risiko di negara tertentu seperti AS.

Negara-negara juga berusaha memastikan cadangan emas mereka berada sedekat mungkin dengan wilayah asal dan ditempatkan di pusat perdagangan yang memiliki aktivitas tinggi.

Dia mencontohkan keputusan bank sentral Belanda yang memilih memindahkan emas ke London, bukan kembali ke Belanda. Menurutnya, Inggris merupakan "salah satu pusat perdagangan paling likuid di pasar emas".

"Gagasannya adalah, ketika terjadi krisis atau situasi yang sulit, emas tersebut berpotensi untuk dimobilisasi," ujarnya. "London pada dasarnya adalah jantung pasar emas. Aktivitas perdagangan di sana sangat tinggi dan pasarnya sangat likuid. Jadi, ketika terjadi krisis, di situlah Anda ingin emas Anda berada."

Bank of England merupakan salah satu institusi yang menjadi pemegang sekaligus kustodian emas terbesar di dunia. Sekitar 400.000 batangan emas diperkirakan tersimpan di fasilitas tersebut, dengan nilai mencapai sekitar 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp4,75 kuadriliun.

Persoalan AS

Ilustrasi Emas <b>(FreePik)</b> Ilustrasi Emas (FreePik)

London memang memiliki daya tarik sebagai lokasi penyimpanan bagi sejumlah institusi Eropa. Namun, keputusan memindahkan cadangan emas juga tidak terlepas dari menurunnya tingkat kepercayaan terhadap AS pada era pemerintahan Trump serta kekhawatiran terhadap kondisi sistem keuangan AS secara keseluruhan.

Pada pekan lalu, pengelola dana kekayaan negara Norwegia yang memiliki aset sekitar 2,3 triliun dolar AS atau Rp40,5 kuadriliun menyatakan perlunya mengurangi secara signifikan kepemilikan surat utang pemerintah AS.

Langkah tersebut diduga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi pasar obligasi pemerintah AS. Inflasi dan peningkatan utang pemerintah telah menaikkan biaya pinjaman sekaligus memunculkan kekhawatiran di kalangan investor.

Menurut Tillett, emas tetap sensitif terhadap berbagai kebijakan Federal Reserve AS. Kekhawatiran terhadap pasar keuangan AS secara umum juga mendorong pemilik cadangan emas untuk mempertimbangkan kembali lokasi penyimpanan aset mereka.

Selain persoalan pasar keuangan, pernyataan Trump mengenai Greenland dan berbagai ancaman yang diarahkan kepada Uni Eropa turut memperkuat alasan sejumlah institusi Eropa untuk memindahkan sebagian aset mereka.

Meski demikian, AS, terutama Federal Reserve Bank of New York di Manhattan, masih menjadi lokasi penyimpanan penting bagi cadangan emas sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman.

Bundesbank sebelumnya telah memindahkan sekitar 300 ton emas dari AS ke Jerman pada periode 2013 hingga 2017. Kendati demikian, bank sentral Jerman tersebut masih menyimpan lebih dari 1.000 ton emas di AS.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan tahun lalu, Bundesbank menegaskan kepercayaannya terhadap New York Fed.

"Kami tidak meragukan bahwa New York Fed merupakan mitra yang dapat dipercaya dan diandalkan untuk menyimpan cadangan emas kami." pungkasnya.

TERKINI

Banyak Bank Eropa Mulai Tarik Cadangan Emas dari AS, Ada Apa?

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 09:55 WIB

Trump Sebut Houthi Minta AS Tak Ikut Campur Konflik Yaman

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 09:35 WIB

Kereta Anjlok di Prancis, Diduga Sabotase

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 09:25 WIB

Houthi Serang Arab Saudi Sebabkan Masjid Rusak

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 09:15 WIB

Trump Ingin Irlandia dan Irlandia Utara Bersatu Kembali

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 09:05 WIB

Aljazair Tutup Wilayah Udara untuk Penerbangan UEA

Luar Negeri Senin, 14 Sep 2026 | 08:45 WIB
Load More
x|close