BNPB Catat Tiga Wilayah Paling Terdampak Abu Erupsi Anak Krakatau

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 13:28
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Sejumlah kendaraan antre memasuki kapal feri di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Minggu, 6 September 2026. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan pada lintasan Merak-Bakauheni masih berjalan normal di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang kini berstatus level III (Siaga). Sejumlah kendaraan antre memasuki kapal feri di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Minggu, 6 September 2026. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan pada lintasan Merak-Bakauheni masih berjalan normal di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang kini berstatus level III (Siaga). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut tiga kabupaten menjadi wilayah yang paling terdampak sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ketiga wilayah tersebut adalah Lampung Selatan dan Tanggamus di Provinsi Lampung serta Pandeglang di Provinsi Banten.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemantauan terhadap daerah terdampak terus dilakukan bersama pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait.

Upaya tersebut juga melibatkan Kementerian Kesehatan yang mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi kesehatan, terutama bagian pernapasan, mata, dan kulit.

"Dalam hal ini termasuk Kementerian Kesehatan yang mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit," kata dia.

BNPB mengimbau warga yang masih harus beraktivitas di luar rumah agar menggunakan perlindungan berupa masker dan kacamata. Setelah kembali ke rumah, masyarakat juga dianjurkan segera membersihkan diri.

Selama wilayah tempat tinggal masih terpapar abu vulkanik, warga disarankan mengurangi kegiatan di luar rumah dan lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan.

Baca Juga: Antisipasi Dampak Abu Vulkanik, Satpol PP Jakpus Bagikan 4.000 Masker ke Warga

Masyarakat yang mengalami gangguan pada pernapasan diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan.

Sementara itu, Menteri Kesehatan telah meminta puskesmas di wilayah terdampak meningkatkan kesiapsiagaan. Pemerintah juga mengantisipasi kemungkinan perlunya pengaktifan pos komando kesehatan atau Health Emergency Operation Centre (HEOC).

Aktivitas Gunung Anak Krakatau turut memengaruhi sektor penerbangan. Otoritas bandara bersama Kementerian Perhubungan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memantau perkembangan serta arah sebaran abu vulkanik karena material tersebut dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Hingga Minggu, 6 September 2026, pukul 13.00 WIB, terdapat enam bandara yang masih ditutup sementara akibat dampak abu vulkanik. Keenamnya yaitu Bandara Soekarno-Hatta dan Budiarto di Tangerang, Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur, Raden Inten II di Lampung, serta Husein Sastranegara di Bandung.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan keputusan menutup sementara Bandara Husein Sastranegara diambil setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi di sekitar bandara. Penutupan berlaku pada Sabtu, 6 September 2026, mulai pukul 12.00 WIB sebagai langkah untuk menjamin keselamatan penerbangan.

Baca Juga: Cerita Purbaya Rumahnya Ikut Kena Abu Vulkanik Anak Krakatau: Dibersihin Kok Kotor Terus

"Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan," katanya.

Kementerian Perhubungan bersama instansi terkait akan terus memperbarui informasi mengenai sebaran abu vulkanik. Pemantauan dilakukan setiap empat jam sebagai bahan evaluasi untuk menentukan status operasional penerbangan.

Di sektor transportasi laut, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sejauh ini belum menimbulkan dampak yang signifikan. Layanan penyeberangan melalui Selat Sunda masih dapat berlangsung, meskipun otoritas pelabuhan diminta tetap meningkatkan kewaspadaan serta memperbarui informasi mengenai keselamatan pelayaran.

Penumpang yang menggunakan transportasi laut juga dianjurkan mengenakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik. Pengelola pelabuhan diminta terus berkoordinasi dengan instansi terkait apabila kondisi berubah akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

(Sumber: Antara)

x|close