Alasan Letusan Krakatau Dianggap Paling Berbahaya di Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 07:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa/Sosial media) Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa/Sosial media) (Sosial media)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan pemantauan selama 24 jam menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali menguat pada awal September 2026.

Berdasarkan citra satelit yang dipantau BMKG pada Minggu, 6 September 2026 pukul 08.00 WIB, terdapat dua klaster abu vulkanik yang terdeteksi menyebar ke sejumlah wilayah. Sebaran tersebut mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta segera mengeluarkan peringatan penerbangan SIGMET setelah erupsi awal Anak Krakatau terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

Sejauh ini, BMKG telah menerbitkan sebanyak 50 SIGMET sebagai bagian dari upaya memastikan keselamatan penerbangan dan navigasi udara.

"Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat," kata Andri.

Meskipun aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, sejarah letusan kawasan Krakatau menunjukkan adanya potensi bahaya besar. Salah satu peristiwa paling dahsyat terjadi pada 1883 dan menjadi catatan penting dalam sejarah gunung api dunia.

Awal Mula Erupsi Krakatau 1883

Krakatau merupakan kawasan gunung api yang berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatera. Setelah mengalami masa tidak aktif selama sekitar dua abad, aktivitas vulkanik Krakatau kembali meningkat pada 20 Mei 1883.

Menurut Amac.us, sebuah kapal perang Jerman pada saat itu melaporkan adanya kolom abu yang menjulang hingga sekitar tujuh mil dari kawasan gunung api tersebut.

Aktivitas berupa ledakan-ledakan kecil kemudian terjadi selama berbulan-bulan. Kendati demikian, masyarakat di sekitar Krakatau belum menyadari bahwa rangkaian aktivitas tersebut merupakan pertanda akan datangnya bencana besar.

Puncak peningkatan aktivitas terjadi pada 26 Agustus 1883. Ledakan besar menghancurkan sebagian besar sisi utara Krakatau dan menghasilkan aliran piroklastik serta gelombang laut dalam skala besar.

Puncak Bencana pada 27 Agustus 1883

Sehari kemudian, tepatnya pada pagi 27 Agustus 1883 sekitar pukul 05.30 WIB, Krakatau mengalami empat ledakan raksasa.

Suara letusan tersebut tercatat sebagai salah satu bunyi paling keras dalam sejarah. Dentumannya dilaporkan dapat terdengar hingga jarak sekitar 3.000 mil atau setara 4.800 kilometer.

Erupsi tersebut menghasilkan sejumlah dampak besar, di antaranya lontaran abu vulkanik yang mencapai ketinggian sekitar 50 mil atau 80 kilometer ke atmosfer.

Selain itu, aliran piroklastik berupa campuran gas panas, abu dan material vulkanik bergerak dengan kecepatan tinggi menyapu kawasan laut.

Baca Juga: Ada 4 Gunung Api Erupsi Bersamaan Pagi Ini, Anak Krakatau hingga Semeru

Runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut kemudian memicu tsunami yang mencapai ketinggian sekitar 120 kaki atau 36 meter. Gelombang besar tersebut menerjang kawasan pesisir Jawa dan Sumatera.

Dari sekitar 36 ribu korban jiwa yang tercatat akibat bencana tersebut, lebih dari 31 ribu orang meninggal dunia karena tsunami. Sementara ribuan korban lainnya tewas akibat terjangan aliran piroklastik.

Erupsi Krakatau Berdampak hingga ke Iklim Global

Dampak letusan Krakatau 1883 tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik berukuran sangat halus menyebar ke atmosfer dan memengaruhi kondisi di berbagai wilayah dunia.

Partikel tersebut menghasilkan fenomena matahari terbenam dengan warna yang sangat mencolok selama berbulan-bulan di sejumlah belahan dunia.

Namun, di balik fenomena tersebut terdapat dampak terhadap iklim. Partikel abu yang berada di atmosfer menghalangi sebagian sinar matahari sehingga menyebabkan penurunan suhu rata-rata global selama beberapa tahun setelah letusan.

Erupsi besar tersebut juga menyebabkan hampir seluruh Pulau Krakatau hilang dari permukaan. Meski demikian, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut tidak berhenti.

Beberapa dekade kemudian, sebuah pulau baru tumbuh dari dalam kaldera bekas letusan Krakatau. Pulau tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau, yang berarti "Anak dari Krakatau".

Gunung Anak Krakatau hingga kini masih menjadi gunung api aktif dan terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya.

Tiga Alasan Krakatau Dianggap Sangat Berbahaya

Sebaran abu vulkanik anak Krakatau <b>(BMKG)</b> Sebaran abu vulkanik anak Krakatau (BMKG)

Krakatau termasuk salah satu kawasan gunung api yang memiliki tingkat ancaman tinggi. Setidaknya terdapat tiga faktor utama yang membuatnya dianggap berbahaya.

Pertama, potensi tsunami vulkanik. Runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut secara tiba-tiba dapat mengakibatkan tsunami besar tanpa didahului gempa bumi. Fenomena serupa terjadi pada bencana 1883 dan kembali terjadi dalam peristiwa tsunami 2018.

Kedua, lokasinya berada di kawasan strategis dan padat penduduk. Krakatau terletak di Selat Sunda yang memisahkan Jawa dan Sumatera, sementara kawasan pesisir kedua pulau tersebut dihuni oleh jutaan penduduk.

Ketiga, potensi dampak terhadap iklim global. Letusan berskala besar dapat membawa material vulkanik hingga lapisan stratosfer dan memengaruhi kondisi atmosfer serta iklim dunia.

Sejarah letusan Krakatau pada 1883 menjadi pengingat bahwa aktivitas Anak Krakatau saat ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas vulkanik di kawasan tersebut. Karena itu, pemantauan secara ketat oleh BMKG bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjadi penting untuk mengantisipasi potensi dampak erupsi terhadap masyarakat maupun penerbangan.

x|close