Terkendala Hak Cipta Foto, Peluncuran Buku Sejarah Indonesia Masih Tertahan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Agu 2026, 16:36
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam bincang santai yang digelar di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam bincang santai yang digelar di Jakarta, Rabu (5/8/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa proses penyusunan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global saat ini masih mengalami sedikit kendala teknis pada pemilihan foto serta penyelesaian aspek kekayaan intelektual (intellectual property/IP).

Fadli menjelaskan, materi penulisan sebetulnya telah rampung diselesaikan. Namun, penggunaan sejumlah foto orisinal masih membutuhkan pemrosesan terkait hak ciptanya.

“Jadi terakhir itu yang mengenai buku, itu kan sudah selesai sebetulnya. Tapi ternyata masih ada kendala terutama foto,” ujar Fadli dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.

Saat ini, tim penyusun tengah menyeleksi foto-foto sejarah yang berasal dari berbagai sumber tepercaya, termasuk dari Galeri Foto Jurnalistik ANTARA dan Indonesia Press Photo Service (IPPHOS). Meski ada kendala di ranah hak cipta foto, ia menyebut proses tata letak (layout) buku sudah hampir selesai.

Baca juga: Membedah Ancaman Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam Ekosistem Digital Indonesia

Di tengah kendala tersebut, Fadli optimistis bahwa buku sejarah yang dirancang setebal 11 jilid ini tetap dapat diluncurkan sesuai jadwal pada bulan ini.

“Iya target (selesai) bulan Agustus ini, target ya. Mudah-mudahan tidak meleset,” tuturnya.

Sebelumnya, rencana penerbitan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global ini digagas sebagai wujud kehadiran negara dalam merawat memori kolektif serta mengokohkan jati diri bangsa melalui penulisan sejarah komprehensif bersudut pandang Nusantara.

Karya ini memetakan rekam jejak panjang perjalanan bangsa secara mendalam—mulai dari peradaban awal Nusantara, interaksi global bersama bangsa India, Tiongkok, Persia, Timur Tengah, hingga Barat, era kolonial, pergerakan nasional, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, konsolidasi negara, masa Orde Baru, hingga era reformasi dan konsolidasi demokrasi hingga tahun 2024.

Baca juga: Menbud Fadli Zon Dorong Digitalisasi Buku Sejarah Era 1970–1990-an

Proses penyusunannya sendiri tidak ditulis langsung oleh pemerintah, melainkan melibatkan 123 sejarawan dan ahli yang berasal dari 34 perguruan tinggi di Indonesia di bawah fasilitasi Direktorat Sejarah Kementerian Kebudayaan.

Fadli menegaskan bahwa buku ini tidak ditujukan sebagai satu-satunya rujukan tunggal sejarah, melainkan acuan di negara demokrasi yang terbuka terhadap pemikiran dinamis.

“Kalau sejarah kita ditulis lengkap, mungkin harus seratus jilid. Buku ini adalah highlight perjalanan bangsa,” jelas Fadli.

(Sumber :Antara)

HIGHLIGHT

x|close