Sejarah Panjang Gunung Anak Krakatau, dari Kelahiran hingga Erupsi 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 07:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik yang cukup intens pada awal September 2026. Erupsi berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026, dengan sejumlah fenomena seperti suara gemuruh, lontaran material pijar, serta semburan yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava.

Sebelumnya, pada Minggu, 6 September 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik. Abu tersebut terpantau meluas ke sejumlah wilayah, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu.

Aktivitas tersebut kembali menjadi perhatian karena terjadi delapan tahun setelah bencana tsunami yang dipicu runtuhnya tubuh Gunung Anak Krakatau pada 2018. Gunung api ini memang dikenal memiliki aktivitas erupsi yang relatif tinggi.

Berdasarkan buku Dinamika Geologi Selat Sunda yang diterbitkan Badan Geologi, sejak muncul di permukaan laut pada 1929, Gunung Anak Krakatau memiliki rata-rata interval letusan sekitar empat tahun.

Baca Juga: Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau, Mendagri Imbau Pemda Terdampak Tingkatkan Kewaspadaan

Periode istirahat erupsinya berada pada rentang satu hingga delapan tahun. Sementara itu, pertumbuhan tubuh gunung diperkirakan mencapai sekitar empat meter per tahun. Karakter tersebut menjadikan Anak Krakatau sebagai salah satu gunung api yang paling aktif di Indonesia.

Berikut perjalanan sejarah Gunung Anak Krakatau, mulai dari bencana besar yang menjadi awal terbentuknya hingga aktivitas vulkaniknya pada 2026.

Letusan Dahsyat Krakatau pada 1883

Sejarah Gunung Anak Krakatau tidak bisa dipisahkan dari letusan besar Gunung Krakatau pada 1883. Ketika bencana tersebut terjadi, Anak Krakatau belum terbentuk. Namun, letusan itulah yang kemudian menjadi proses awal terbentuknya gunung api baru tersebut.

Erupsi Krakatau 1883 tercatat sebagai salah satu letusan gunung api terbesar dalam sejarah modern. Peristiwa tersebut terjadi hampir tujuh dekade setelah letusan dahsyat Gunung Tambora di Sumbawa pada 1815.

Mengacu pada buku Volcanoes in Human History: The Far-Reaching Effects of Major Eruptions karya Donald Theodore Sanders dan sejumlah penulis lainnya, pada 26 Agustus 1883 aktivitas Krakatau menimbulkan guncangan kuat yang dirasakan hingga Batavia, yang kini menjadi Jakarta. Getaran tersebut bahkan dilaporkan terasa sampai Australia.

Sehari kemudian, pada 27 Agustus, suara letusan Krakatau terdengar hingga Filipina, Australia dan Ceylon, yang sekarang dikenal sebagai Sri Lanka. Pada hari yang sama, erupsi tersebut memicu tsunami besar yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra serta menghancurkan lebih dari 160 permukiman.

Jumlah korban pasti akibat bencana Krakatau 1883 sulit diketahui. Kondisi pencatatan penduduk pada masa itu belum akurat, sementara banyak korban lainnya terseret gelombang tsunami ke laut.

Pemerintah kolonial Belanda mencatat sebanyak 36.417 orang meninggal dunia. Sekitar 90 persen korban disebut tewas akibat tsunami, sedangkan sekitar 10 persen lainnya yang berada di pesisir Sumatra meninggal akibat terjangan awan panas vulkanik atau pyroclastic surge.

Meskipun Anak Krakatau tidak secara langsung menjadi penyebab bencana 1883, letusan tersebut menjadi bagian penting dari proses kelahirannya. Tiga puncak Krakatau purba, yakni Perbuwatan, Danan dan sebagian Rakata, runtuh setelah letusan dan membentuk kaldera bawah laut.

Beberapa dekade kemudian, aktivitas gunung api baru mulai muncul dari dasar kaldera tersebut. Pada 1927, Anak Krakatau mulai memperlihatkan aktivitas erupsi sebelum akhirnya muncul ke permukaan laut.

Kelahiran Gunung Anak Krakatau 1927-1929

Gunung Anak Krakatau Erupsi <b>(Instagram @spacex_spacenews)</b> Gunung Anak Krakatau Erupsi (Instagram @spacex_spacenews)

Gunung Anak Krakatau mulai terbentuk pada 1927 di dalam kaldera bekas letusan 1883. Lokasinya berada di antara bekas kerucut Danan dan Perbuwatan.

Pada 29 Desember 1927, terjadi erupsi bawah laut pertama. Aktivitas tersebut menyebabkan air laut menyembur dari pusat Kompleks Gunung Api Krakatau dan membentuk fenomena seperti air mancur.

Erupsi bawah laut itu terus berlangsung hingga 15 Januari 1929. Setelah itu, material vulkanik mulai menembus permukaan laut dan membentuk daratan baru.

Pada 20 Januari 1929, dinding kawah mulai terbentuk di sekitar pusat aktivitas. Pulau baru yang muncul di kawasan tersebut kemudian secara resmi dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Karena aktivitas erupsi pada masa awal berlangsung di bawah laut, tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerusakan di daratan akibat fase tersebut.

Periode Danau Kawah 1931-1960

Setelah muncul ke permukaan, Anak Krakatau memasuki fase aktivitas vulkanik yang tinggi. Catatan Badan Geologi menunjukkan sekitar 47 letusan terjadi dalam periode 1931 hingga 1960.

Pada awal perkembangannya, kawah Anak Krakatau berbentuk seperti bulan sabit dan terbuka ke arah barat hingga barat daya. Kondisi tersebut memungkinkan air laut masuk ke dalam kawah dan membentuk sebuah danau.

Namun, keberadaan danau kawah tidak berlangsung selamanya. Pada 1961, danau tersebut menghilang setelah material hasil erupsi terus menumpuk dan mengisi kawasan kawah.

Baca Juga: Ada 4 Gunung Api Erupsi Bersamaan Pagi Ini, Anak Krakatau hingga Semeru

Salah satu fase paling aktif dalam sejarah modern Anak Krakatau dimulai pada November 1992. Aktivitas letusan berlangsung hingga Juni 2001 dan terjadi hampir setiap hari, bahkan dalam beberapa periode letusan dapat muncul setiap 15 menit.

Peningkatan aktivitas diawali dengan melonjaknya gempa vulkanik dangkal pada 7 November 1992. Sehari kemudian, lebih dari 400 gempa vulkanik tercatat dalam waktu sekitar 10 jam menjelang letusan utama pada 8 November.

Ratusan Letusan dalam Sehari pada 2007-2009

Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa/Sosial media)  <b>(Sosial media)</b> Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa/Sosial media) (Sosial media)

Aktivitas vulkanik Anak Krakatau kembali mengalami peningkatan tajam pada Oktober 2007. PVMBG kemudian menaikkan status gunung api menjadi Level III atau Siaga pada 26 Oktober menyusul peningkatan kegempaan dan kemunculan kolom abu vulkanik secara berulang.

Pada periode tersebut, masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak.

Intensitas erupsi semakin meningkat pada 9 November 2007. Dalam sehari tercatat 182 kali letusan yang disertai gempa vulkanik. Material pijar terlontar dari kawah, sementara lava mengalir hingga ratusan meter ke arah lereng.

Aktivitas erupsi kemudian masih berlangsung pada 2008 dan 2009. Pada April 2008, suara dentuman dari Anak Krakatau dilaporkan terdengar sampai pos pengamatan yang berjarak sekitar 42 kilometer.

Kemudian pada 25 Maret 2009, sebanyak 19 erupsi tercatat dalam satu hari. Kondisi tersebut membuat status Siaga diperpanjang hingga Mei 2009.

Ribuan Gempa dan Abu Mencapai Bandar Lampung pada 2011-2012

Pada akhir September 2011, aktivitas kegempaan Anak Krakatau meningkat drastis. Gempa vulkanik tercatat sekitar empat hingga lima kali setiap menit.

Status gunung api kembali dinaikkan menjadi Level III atau Siaga dan wilayah yang harus dikosongkan diperluas. Data Smithsonian Institution bahkan mencatat ribuan aktivitas seismik setiap hari, dengan puncaknya mencapai 5.883 kejadian pada 8 Oktober 2011.

Aktivitas erupsi kembali terlihat pada September 2012. Erupsi bertipe Strombolian melontarkan lava hingga sekitar 200-300 meter di atas kawah.

Abu vulkanik kemudian terbawa angin ke arah utara hingga mencapai Bandar Lampung yang berjarak sekitar 75 kilometer. Pada periode yang sama, aliran lava mencapai kawasan pantai dan menambah garis pantai pulau tersebut sekitar 100 meter.

Tsunami Mematikan pada 2018

Bencana paling mematikan yang berkaitan dengan Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018.

Setelah mengalami erupsi selama berbulan-bulan, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh dan longsor ke laut di kawasan Selat Sunda. Material dalam jumlah besar yang masuk ke laut secara tiba-tiba menyebabkan perpindahan massa air dan memicu tsunami.

Gelombang tsunami kemudian menerjang pesisir Banten dan Lampung tanpa didahului gempa bumi yang menjadi peringatan bagi masyarakat.

Berdasarkan data BNPB, bencana tersebut menyebabkan 437 orang meninggal dunia, 10 orang dinyatakan hilang, 31.943 orang mengalami luka-luka dan 16.198 orang harus mengungsi.

Kerusakan juga terjadi di berbagai wilayah pesisir Selat Sunda. Sebanyak 1.527 rumah mengalami kerusakan berat, sementara sejumlah fasilitas umum hancur. Selain itu, 434 perahu dan kapal turut mengalami kerusakan.

Dampak tsunami tercatat di sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran hingga Tanggamus. Lebih dari 40 ribu orang terdampak dan harus meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mengungsi.

Erupsi dengan Kolom Abu hingga 1.000 Meter pada 2022-2023

Aktivitas erupsi kembali meningkat pada awal Februari 2022. Badan Geologi mencatat sembilan letusan pada 4 Februari 2022 dengan ketinggian kolom abu mencapai sekitar 800 hingga 1.000 meter di atas puncak.

Saat itu, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level II atau Waspada dan kemudian mengalami sejumlah perubahan sepanjang tahun.

Aktivitas vulkanik berlanjut pada 2023. Pada Januari, letusan menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 300-350 meter serta disertai lontaran material pijar.

Peningkatan aktivitas kembali terjadi pada 5 Desember 2023. Saat itu kolom abu hasil erupsi mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak sehingga status gunung api dinaikkan kembali menjadi Level III atau Siaga.

Rangkaian erupsi masih tercatat hingga 16 Desember 2023 sebelum aktivitas memasuki periode jeda yang relatif panjang.

Kembali Erupsi pada 2026

Setelah memasuki periode jeda, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada 2 Juli 2026. Pada saat itu tercatat dua letusan utama dan status aktivitas gunung api kembali berada pada Level III atau Siaga.

Erupsi selanjutnya berkembang dengan karakter Strombolian yang ditandai ledakan berulang, lontaran batu pijar dan semburan abu vulkanik.

Aktivitas semakin intensif mulai Jumat, 4 September 2026. Anak Krakatau mengalami erupsi secara terus-menerus selama beberapa jam, disertai suara gemuruh dan semburan material berwarna merah menyala.

Fenomena tersebut membentuk lava fountain atau air mancur lava. Material pijar terlontar ke udara dan sebagian mengalir menyusuri lereng gunung.

Sebaran abu vulkanik dari aktivitas terbaru kemudian meluas ke sejumlah wilayah. Abu dilaporkan mencapai Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung hingga Bengkulu.

Rangkaian aktivitas tersebut kembali menunjukkan karakter Anak Krakatau sebagai gunung api yang terus mengalami pertumbuhan dan perubahan sejak kemunculannya hampir satu abad lalu.

x|close