Menkes Ungkap Tiga Bahaya Abu Vulkanik Anak Krakatau, Apa Itu?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 06:42
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa/Sosial media) Erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Istimewa/Sosial media) (Sosial media)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat mengenai tiga risiko kesehatan yang dapat muncul akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, abu vulkanik dapat berdampak pada sistem pernapasan, mata, serta kulit.

"Dari sisi Kementerian Kesehatan kita pesankan kepada masyarakat agar tidak panik dan titip ada tiga hal yang mesti kita jaga bersama. Pertama, dari sisi kesehatan abu vulkanik ini ada tiga dampak yang harus kita jaga. Pertama ke pernapasan, kedua ke mata dan ketiga ke kulit," kata Budi dalam konferensi pers daring, Minggu, 6 September 2026.

Untuk melindungi saluran pernapasan, Budi meminta masyarakat menggunakan masker apabila harus melakukan aktivitas di luar rumah. Kementerian Kesehatan juga telah menyiapkan peralatan pendukung pernapasan di sejumlah puskesmas sebagai langkah antisipasi jika terjadi peningkatan jumlah pasien yang mengalami gangguan pernapasan akibat abu erupsi.

Sementara itu, perlindungan terhadap mata juga menjadi perhatian. Budi mengimbau masyarakat mengenakan kacamata ketika berada di luar rumah. Ia juga memberikan panduan apabila abu vulkanik sampai masuk ke mata.

"Kalau debunya masuk pastikan jangan dikucek-kucek. Bersihkan pakai air dan segera ke puskesmas karena semua puskesmas sudah kita kasih obat tetes mata," ujar Budi.

Untuk mengantisipasi iritasi pada kulit, Menkes meminta masyarakat membersihkan tubuh menggunakan air bersih setelah kembali dari luar rumah. Ia memastikan puskesmas telah menyediakan salep yang dapat digunakan untuk menangani gangguan pada kulit akibat paparan abu vulkanik.

"Tapi kalau sudah keluar rumah setiap kembali ke rumah pastikan dibersihkan dengan air. Pastikan dibersihkan dengan air dengan hati-hati karena mungkin saja ada beberapa partikelnya yang tajam," ujar Budi.

Baca Juga: Antisipasi Dampak Erupsi Anak Krakatau, Kemendiktisaintek Imbau Perguruan Tinggi Terapkan Kuliah Daring

Budi kembali mengingatkan masyarakat agar tidak panik menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Meski demikian, ia menyarankan warga mengurangi atau menghindari aktivitas di luar rumah selama kondisi abu vulkanik masih berpotensi membahayakan kesehatan.

"Bagaimana caranya supaya kita bisa tetap sehat ketiganya? Kalau bisa jangan keluar rumah aja. Tapi kalau keluar rumah pakai masker, kalau mata mesti pakai kaca mata, kalau kulit begitu pulang langsung dibersihkan," tutur Budi.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Terdeteksi hingga Jakarta

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah meluas hingga sejumlah wilayah. Abu tersebut terpantau mencapai wilayah Lampung hingga sebagian Jakarta.

Berdasarkan pemantauan BMKG pada Minggu, 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, terdapat dua klaster utama sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," tulis BMKG dalam situsnya.

Gunung Anak Krakatau Erupsi <b>(Instagram @spacex_spacenews)</b> Gunung Anak Krakatau Erupsi (Instagram @spacex_spacenews)

Klaster pertama bergerak menuju wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Ketinggian sebaran abu pada klaster tersebut terpantau mencapai sekitar 20 ribu kaki.

"Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20 ribu ft teramati ke arah timur laut-selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya," jelasnya.

Sementara klaster lainnya terpantau menyebar dari permukaan hingga ketinggian sekitar 50 ribu kaki dengan arah pergerakan barat daya hingga barat laut. Sebaran tersebut mencakup sejumlah wilayah di sekitar Banten, Lampung, Bengkulu, serta kawasan perairan di sekitarnya.

"Mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten," jelasnya.

Dengan meluasnya sebaran abu vulkanik tersebut, masyarakat di wilayah terdampak diimbau memperhatikan kondisi udara dan mengikuti arahan dari otoritas terkait untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

x|close