Gunung Anak Krakatau Catat Erupsi Tertinggi Sepanjang 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Sep 2026, 20:30
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Petugas memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Banten, Sabtu. Petugas memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Banten, Sabtu. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mencatatkan aktivitas erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026. Rangkaian erupsi ini berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026).

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, mengungkapkan di Serang pada Sabtu bahwa erupsi tersebut terindikasi sebagai fenomena pancaran lava (lava fountain). Aktivitas ini mulai terdeteksi pada pukul 23.07 WIB dan terus berlanjut.

"Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung tersebut berstatus siaga. Sejak tadi malam terjadi satu kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi yang tercatat mencapai 21.600 detik," kata Dika.

Secara akumulatif, Gunung Anak Krakatau telah mengalami lebih dari 240 kali letusan sejak penetapan Status Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Dika menegaskan bahwa pemicu letusan murni berasal dari kantong magma gunung itu sendiri, sehingga tidak memicu aktivitas vulkanik pada gunung api lainnya di Indonesia.
 

Tingginya intensitas letusan turut memicu gelombang suara gemuruh dan dentuman keras yang terdengar sampai ke kawasan pesisir Banten hingga Lampung.

"Suara dentuman yang terdengar itu merupakan suara dari hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat ke udara, bukan dentuman akibat gempa bumi atau gerakan tanah," ujarnya.

Upaya pemantauan visual secara langsung saat ini mengalami kendala teknis. Pantauan terakhir pada pukul 01.00 WIB sempat merekam semburan lava, sebelum sejumlah instrumen di sekitar kawah diduga rusak terpapar material erupsi.

"Secara fisik sampai siang ini belum bisa kita pantau karena ada beberapa alat pemantauan, termasuk CCTV, yang kemungkinan mengalami kerusakan akibat erupsi," ungkapnya.

Kendati intensitas erupsi tergolong tinggi, Dika memastikan status Gunung Anak Krakatau tetap bertahan pada Level III atau Siaga tanpa ada peningkatan tingkat ancaman. Ia mengimbau warga di sepanjang garis pantai agar tidak panik secara berlebihan, sebab potensi munculnya gelombang pasang atau tsunami sangat kecil mengingat dimensi tubuh gunung yang masih relatif kecil saat ini.
 

"Untuk potensi tsunami sangat kecil, bahkan bisa dikatakan tidak ada. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tetap menjauh dari Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer," tegas Dika.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close