Ntvnews.id, Bandung - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan suara dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya pada Jumat, 4 September 2026, hingga Sabtu dini hari tidak berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terjadi bersamaan dengan munculnya suara dentuman tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan.
“Tapi kalau di Kota Bandung, menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin,” kata Suadi di Bandung, Sabtu, 5 September 2026.
Suaidi menjelaskan suara dentuman dapat disebabkan oleh sejumlah aktivitas geofisika, seperti swarm earthquake atau rangkaian gempa kecil, gempa akibat aktivitas di kawasan karst, maupun gempa yang dipicu oleh runtuhan.
Baca Juga: BMKG Temukan 2.671 Titik Panas di Sumatera, Sumsel Catat Angka Tertinggi
“Gempa-gempa akibat runtuhan, gempa-gempa akibat swarm, dan gempa-gempa kecil itu bisa menghasilkan dentuman,” katanya.
Namun, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, tidak ditemukan rekaman gempa di wilayah Bandung Raya ketika masyarakat melaporkan mendengar suara dentuman tersebut.
“Tapi fenomena hari ini, kami mencatat tidak ada rekaman gempa, baik di sesar aktif, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, maupun beberapa sesar lainnya pada saat itu di wilayah Bandung Raya,” ujar Suaidi.
Ia menilai fenomena tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut oleh para peneliti di bidang sains kebumian, geofisika, dan meteorologi.
Baca Juga: BMKG Catat 473 Titik Panas Tersebar di 11 Wilayah Kalsel
“Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake tadi mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba,” ujarnya.
(Sumber: Antara)
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat (Antara)