Intelijen AS Ungkap Dugaan China Kantongi Data 220 Juta Pemilih Amerika

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Jul 2026, 12:45
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pentagon atau Gedung Kementerian Perang AS Ilustrasi - Pentagon atau Gedung Kementerian Perang AS (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Komunitas Intelijen Amerika Serikat mengungkapkan bahwa China diduga telah memperoleh data 220 juta pemilih Amerika melalui berbagai cara. Informasi tersebut disampaikan dalam lembar fakta yang diperoleh kelompok wartawan Gedung Putih pada Kamis,30 juli 2026.

"Republik Rakyat China dan pihak-pihak yang bertindak atas nama mereka telah membeli, mencuri, atau meretas data pendaftaran pemilih sebanyak 220 juta warga Amerika. Pengumpulan data oleh China itu mencakup data yang tidak tersedia untuk umum," demikian isi lembar fakta yang telah dikonfirmasi para pimpinan Kantor Direktur Intelijen Nasional, Badan Keamanan Nasional, Badan Intelijen Pusat, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Dalam dokumen tersebut, "intervensi dalam pemilu" didefinisikan sebagai pengaruh yang dilakukan pemerintah asing, baik secara terbuka maupun terselubung, dengan tujuan memengaruhi pemilu Amerika Serikat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dokumen itu juga mengungkap bahwa pada 2022, badan intelijen AS menetapkan adanya seorang pelaku eksploitasi jaringan komputer asal China yang diduga memperoleh data pendaftaran pemilih yang tersedia di platform perdagangan daring.

Baca juga:Direktur Intelijen AS Ungkap Dokumen Baru soal Covid-19, Apa Itu?

"Pihak lawan dapat memanipulasi data untuk mencegah pemilih perorangan atau kelompok pemilih agar tidak memberikan suara. Sehingga, itu menyebabkan keterlambatan kedatangan pemilih pada hari pemungutan suara atau memaksa pemilih untuk menggunakan surat suara sementara. Pihak-pihak lawan juga dapat memanfaatkan data pendaftaran, yang dalam beberapa kasus tersedia secara publik atau dapat dibeli, untuk merancang upaya campur tangan atau pengaruh lainnya," menurut Komunitas Intelijen AS.

Sebelumnya, pada awal Juli lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan China diduga telah melakukan berbagai cara untuk menggagalkan keterpilihannya kembali pada pemilu 2020. Trump juga menuding pejabat intelijen AS sengaja menyembunyikan informasi tersebut dari Gedung Putih.

Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Washington membantah tuduhan tersebut. Kepada RIA Novosti, pihak kedutaan menyatakan bahwa China tidak pernah dan tidak akan pernah mencampuri urusan pemilihan presiden Amerika Serikat.

Baca juga:Menlu Selandia Baru Bersitegang dengan Dubes China

(Sumber:Antara)

HIGHLIGHT

x|close