Ntvnews.id, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menila pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai mengejutkan pasar.
Ibrahim menyebut keputusan tersebut terlihat mendadak, meski menurutnya rencana reshuffle telah dipersiapkan sejak beberapa bulan sebelumnya.
Ia menjelaskan rencana reshuffle sebenarnya telah menjadi pembahasan pemerintah sejak sekitar tiga bulan lalu.
"Pasar kaget dengan digantinya Menteri Keuangan Purbaya oleh Presiden Prabowo Subianto. Kita lihat bahwa pergantian ini begitu mendadak, ya mungkin mendadak bagi kita. Tapi sebenarnya rencana ini sudah tiga bulan yang lalu Presiden akan melakukan reshuffle," ucap Ibrahim, Selasa 15 September 2026.
Baca juga: Ekonom: Penunjukan Suahasil Jamin Kesinambungan APBN dan Kebijakan Fiskal
Ia menyebut terdapat dua posisi strategis yang sebelumnya menjadi target reshuffle pemerintah, yakni Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia (BI).
Namun, dinamika kemudian berubah setelah posisi Gubernur BI mengalami pergantian terlebih dahulu. Kini, Purbaya juga diganti dari jabatan Menteri Keuangan.
Ibrahim menyebut salah satu faktor yang dapat menjadi pertimbangan Istana dalam melakukan pergantian Menteri Keuangan adalah kebijakan fiskal, khususnya terkait upaya menjaga defisit anggaran pemerintah.
Dia menilai Purbaya selama menjabat Menkeu cukup fokus pada upaya menjaga defisit anggaran pemerintah Indonesia agar tetap berada dalam batas yang ditetapkan.
"Kenapa Istana melakukan reshuffle terhadap Menteri Keuangan, karena kita lihat bahwa saat ini Menteri Keuangan selalu fokus terhadap defisit neraca berjalan, defisit anggaran pemerintah Indonesia," ungkapnya.
Kemudian ia mengaitkan kebijakan tersebut dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Upaya menjaga defisit anggaran berpotensi mendorong pemerintah melakukan penyesuaian terhadap sejumlah pos belanja, termasuk anggaran MBG.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi pihak-pihak yang tengah mengembangkan program MBG apabila dukungan anggarannya terbatas.
Baca juga: Pesan Prabowo ke Menkeu Suahasil: APBN Harus Sehat, Kredibel, dan Bisa Stabilkan Ekonomi RI
"Kita lihat bahwa untuk menutupi jalan sampai defisit anggaran itu mencapai di 2,9, berarti apa harus terus mengurangi anggaran-anggaran dari MBG tersebut," jelas Ibrahim.
"Kita tahu bahwa MBG, dana MBG yang paling dikatakan cukup untuk mempertahankan defisit anggaran itu adalah di bawah Rp200 triliun," lanjutnya.
Dia menilai keterbatasan anggaran dapat berpengaruh terhadap keberlangsungan maupun pengembangan organisasi dan pelaksanaan program MBG.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa belum memastikan penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada tahun depan. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)