Wihaji: Waktu Berkualitas Ayah dan Anak Tak Bisa Digantikan Teknologi maupun AI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jul 2026, 21:00
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kurniawan (53) mengantarkan anaknya, Salsabila Zahirah (17) pada hari pertama sekolah di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin, 13 Juli 2026. Kurniawan (53) mengantarkan anaknya, Salsabila Zahirah (17) pada hari pertama sekolah di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin, 13 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa interaksi langsung antara ayah dan anak memiliki nilai yang tidak dapat tergantikan oleh perkembangan teknologi maupun kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat meninjau pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

"Pemerintah tidak anti terhadap handphone maupun teknologi, tetapi teknologi seharusnya menjadi alat yang melayani manusia, bukan mengendalikan manusia, karena teknologi tidak memiliki hati dan empati sebagaimana manusia. Oleh karena itu, waktu berinteraksi dengan anak ini tidak akan bisa digantikan oleh teknologi maupun AI," kata Wihaji.

Menurutnya, momen sederhana seperti mengantar anak ke sekolah dapat menjadi kesempatan bagi ayah untuk membangun komunikasi dan menciptakan kenangan yang akan terus diingat anak.

Baca JugaWihaji Dorong Perusahaan Sediakan Daycare Bersertifikat untuk Anak Buruh

Wihaji mengungkapkan sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless atau minim kehadiran figur ayah dalam proses pengasuhan. Karena itu, pemerintah mendorong para ayah memanfaatkan Program GAMAS untuk hadir mendampingi anak pada hari pertama sekolah.

"Sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami kondisi fatherless, yakni kehilangan figur ayah dalam pengasuhan. Oleh karena itu, melalui Gamas, pemerintah mengajak para ayah meluangkan waktu mengantar anak ke sekolah pada hari pertama agar anak merasakan kehadiran ayah secara psikologis," ujar dia.

Ia menilai perhatian dan kehadiran ayah merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Wihaji juga mengingatkan penggunaan gawai perlu mendapat perhatian agar tidak menggantikan peran orang tua dalam keluarga.

"Jika orang tua tidak hadir, handphone akan menggantikan peran tersebut karena digunakan anak selama sekitar 8–10 jam setiap hari," ucap Wihaji.

Baca JugaWihaji Minta Menu MBG untuk Balita di Daycare Disesuaikan dengan Usia dan Kebutuhan Gizi

Lebih lanjut, ia menjelaskan semangat GAMAS sejalan dengan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), yakni meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Menurutnya, masih banyak ayah yang berfokus mencari nafkah, tetapi kurang mengikuti perkembangan pendidikan anak.

Sebagai bentuk dukungan terhadap kedua program tersebut, Mendukbangga/BKKBN telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 17 tentang GEMAR dan GAMAS yang diterapkan secara berkelanjutan di seluruh sekolah di Indonesia.

Dukungan juga datang dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini. Ia meminta instansi pemerintah memberikan fleksibilitas kerja bagi aparatur sipil negara (ASN) yang akan mengantar anak pada hari pertama sekolah.

Rini menjelaskan kebijakan tersebut diharapkan memberi ruang bagi ASN untuk mendampingi anak tanpa mengganggu produktivitas maupun kualitas pelayanan publik.

"Penerapan fleksibilitas kerja ini tidak boleh mengurangi kualitas pemerintahan dan pelayanan publik. Justru sebaliknya, kita harapkan melalui kebijakan ini ASN bisa bekerja lebih fokus, adaptif terhadap perkembangan, serta lebih seimbang dalam kehidupan," katanya.

Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Menteri PANRB Nomor B/257/M.KT.02/2026 yang diterbitkan pada Jumat, 10 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan peran keluarga di kalangan ASN.

(Sumber: Antara)

x|close