Mendukbangga Tekankan GAMAS Perkuat Ikatan Ayah dan Anak Sejak Hari Pertama Sekolah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jul 2026, 17:25
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji saat meninjau Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (Gamas) di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin, 13 Juli 2026. Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji saat meninjau Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (Gamas) di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin, 13 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) memiliki peran penting dalam mempererat hubungan emosional dan psikologis antara ayah dan anak.

Hal itu disampaikan Wihaji saat meninjau pelaksanaan Program GAMAS di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

"Perjalanan mengantar sekolah itu menjadi kesempatan bagi ayah untuk membangun komunikasi dengan anak, karena jika ayah tidak mengajak anak berbicara, maka anak akan lebih banyak 'berbicara' dengan handphone," kata Wihaji.

Ia menjelaskan, pelaksanaan GAMAS dilakukan secara berkelanjutan bersama Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) sesuai Surat Edaran Mendukbangga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026. Program tersebut juga diterapkan pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru.

Baca JugaWihaji Dorong Perusahaan Sediakan Daycare Bersertifikat untuk Anak Buruh

Menurut Wihaji, inisiatif tersebut merupakan salah satu langkah pemerintah untuk menjawab persoalan minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak atau fatherless di Indonesia. Berdasarkan data Pendataan Keluarga Tahun 2025, angka keterbatasan peran ayah tercatat mencapai 25 persen.

Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi langsung antara orang tua dan anak. Wihaji menilai, ketika orang tua sulit diajak berdiskusi, anak cenderung mencari jawaban melalui media sosial maupun kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Karena itu, orang tua didorong meluangkan waktu dengan mengesampingkan telepon genggam dan berbincang secara langsung dengan anak.

"Kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak. Fenomena ketergantungan pada handphone bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan merupakan tantangan global dan bagian dari 'peradaban baru' atau new civilization. Tidak hanya di Indonesia, negara-negara maju juga menghadapi tantangan serupa terkait penggunaan gawai oleh anak-anak," ujar dia.

Baca JugaWihaji Minta Menu MBG untuk Balita di Daycare Disesuaikan dengan Usia dan Kebutuhan Gizi

Wihaji menegaskan, tujuan utama GAMAS dan GEMAR adalah meningkatkan kehadiran emosional orang tua, khususnya ayah, melalui komunikasi yang lebih intens dengan anak. Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun keluarga yang berkualitas melalui penguatan pola pengasuhan dan hubungan dalam keluarga.

Lebih lanjut, ia mengatakan Program GAMAS tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pemerintah akan melanjutkannya melalui berbagai program pembinaan keluarga, seperti Bina Keluarga Remaja (BKR), Sekolah Bersama Orang Tua, Sekolah Bersama Ayah, Akademi Keluarga, serta program lainnya yang berfokus pada penguatan pengasuhan dalam keluarga.

(Sumber: Antara)

 
 
 
x|close