Ayat Al-Qur'an untuk Delegasi Asing di Pemakaman Ali Khamenei Picu Perdebatan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Jul 2026, 05:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Seorang warga memberikan penghormatan bunga mawar saat unjuk rasa untuk berkabung untuk pemimpin tertinggi Iran yang telah meninggal, Ali Khamenei, dan menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi yang sedang menjabat, Mojtaba Khamenei, di Teheran, Seorang warga memberikan penghormatan bunga mawar saat unjuk rasa untuk berkabung untuk pemimpin tertinggi Iran yang telah meninggal, Ali Khamenei, dan menyatakan kesetiaan kepada Pemimpin Tertinggi yang sedang menjabat, Mojtaba Khamenei, di Teheran, (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an untuk para delegasi asing yang menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu perdebatan luas di Iran maupun di media sosial internasional.

Perdebatan muncul setelah sejumlah media Iran dan pengguna media sosial menilai ayat-ayat yang dibacakan kepada masing-masing delegasi dipilih secara khusus untuk menyampaikan pesan politik dan diplomatik kepada para pejabat yang hadir.

Pihak penyelenggara pemakaman tidak memberikan penjelasan resmi mengenai alasan penggunaan ayat Al-Qur'an yang berbeda bagi setiap delegasi. Namun, sejumlah media di Iran menilai pemilihan ayat tersebut bukan sekadar bagian dari ritual keagamaan biasa.

Situs berita Fararu menyebut bahwa pemilihan ayat-ayat tersebut tampaknya dilakukan "bukan secara acak, tetapi dengan sengaja." Sementara itu, media konservatif Tabnak menggambarkan praktik tersebut sebagai "inovasi dalam diplomasi publik," serta menilai pembacaan ayat yang disesuaikan dapat dipahami sebagai pesan etika sekaligus politik kepada masing-masing delegasi.

Salah satu pembacaan yang paling banyak menarik perhatian terjadi saat Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Waleed bin Abdulkarim, mendekati peti jenazah Ali Khamenei.

Ayat yang dibacakan merupakan Ayat 13 Surah Ali Imran yang merujuk pada Perang Badar, ketika pasukan Muslim yang dipimpin Nabi Muhammad berhasil mengalahkan lawan yang jumlahnya jauh lebih besar. Ayat tersebut ditutup dengan kalimat: "Allah menolong siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal budi."

Baca Juga: Respons Iran Soal Pernyataan Trump Bisa Lenyapkan Semua Orang di Pemakaman Ali Khamenei

Sejumlah pengamat mengaitkan pemilihan ayat tersebut dengan konflik terbaru antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Dalam konflik tersebut, Arab Saudi dilaporkan mengizinkan penggunaan wilayahnya untuk operasi militer AS, sembari mendorong Washington agar menghindari pecahnya perang regional yang lebih luas.

Sementara itu, ayat yang dibacakan untuk delegasi Turki menyinggung keutamaan orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah dibandingkan mereka yang memilih tidak ikut berperang tanpa alasan yang dibenarkan. Beberapa komentator menafsirkan hal itu sebagai sindiran terhadap sikap hati-hati Ankara dalam menghadapi konflik terbaru di kawasan.

Delegasi resmi Lebanon dan delegasi terpisah dari Hizbullah juga menerima pembacaan ayat yang berbeda. Delegasi Lebanon mendengarkan ayat yang menekankan pentingnya mengikuti petunjuk Ilahi dan berkorban di jalan Allah. Adapun Hizbullah, yang secara harfiah berarti "Partai Tuhan", disambut dengan ayat yang menjanjikan kemenangan bagi "Partai Tuhan."

Sementara itu, delegasi Hamas menerima ayat yang memuji orang-orang beriman "yang tetap setia pada perjanjian yang mereka buat dengan Tuhan" dan tidak pernah mengingkari janji mereka.

Perhatian publik juga tertuju pada momen ketika anggota keluarga pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, mendekati peti jenazah. Saat Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam Iran, berjalan menuju lokasi, dibacakan Ayat 95 Surah An-Nisa yang membandingkan orang-orang beriman yang tinggal di rumah dengan mereka yang berjuang "dengan harta dan nyawa mereka" demi membela agama Allah.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan Hassan Khomeini meninggalkan lokasi tak lama setelah pembacaan ayat dimulai. Peristiwa itu kemudian memicu kritik dari sejumlah kelompok konservatif di Iran. Hassan Khomeini sendiri selama ini dikenal dekat dengan kalangan reformis.

Pemilihan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut kemudian memicu diskusi luas di media sosial berbahasa Persia dan Arab. Sebagian pihak mendukung langkah tersebut dengan alasan bahwa ayat-ayat yang dipilih mencerminkan sikap politik negara-negara terkait dalam konflik regional, bukan ditujukan sebagai serangan pribadi.

Puluhan ribu orang berkumpul dalam upacara perpisahan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Masjid Imam Khomeini Mosalla di Teheran, Iran, pada Sabtu, 4 Juli 2026.  <b>(Antara)</b> Puluhan ribu orang berkumpul dalam upacara perpisahan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Masjid Imam Khomeini Mosalla di Teheran, Iran, pada Sabtu, 4 Juli 2026. (Antara)

Seorang pengguna media sosial berbahasa Persia menilai bahwa mengingatkan negara-negara tetangga mengenai konsekuensi kebijakan mereka selama perang merupakan "pengingat akan tanggung jawab, bukan penghinaan."

Namun, sejumlah pihak lainnya menganggap penggunaan ayat Al-Qur'an sebagai sarana menyampaikan kritik kepada tamu negara dalam acara belasungkawa merupakan tindakan yang tidak tepat.

"Jika pemilihan ayat-ayat yang dibacakan selama upacara kemarin disengaja, maka itu adalah kesalahan," tulis seorang pengguna.

"Mengejek tamu yang datang untuk menyampaikan belasungkawa tidak sesuai dengan tradisi budaya kita maupun ajaran agama,” imbuhnya.

Pengguna lainnya juga menyampaikan kritik serupa.

"Saya tidak setuju dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengkritik siapa pun yang datang untuk menyampaikan belasungkawa. Itu tidak pantas. Setahu saya, mencela tamu bukanlah praktik para nabi, Nabi Muhammad, para Imam, atau pemimpin yang gugur."

Perdebatan tersebut turut meluas ke media sosial berbahasa Arab. Komentator asal Irak, Yaseen Aziz, menyebut pembacaan ayat untuk delegasi Arab Saudi sebagai "indikator kebencian yang ada dan kebodohan diplomatik kepemimpinan saat ini di Iran."

x|close