Trump Mengaku Terkejut Jutaan Warga Iran Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Jul 2026, 07:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan saat perjalanan ke Tokyo di pesawat Air Force One, Senin, 27 Oktober 2025. ANTARA FOTO/REUTERS/Evelyn Hockstein/agr Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan saat perjalanan ke Tokyo di pesawat Air Force One, Senin, 27 Oktober 2025. ANTARA FOTO/REUTERS/Evelyn Hockstein/agr (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terkejut melihat jutaan warga Iran menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu.

Dalam wawancara singkat dengan Axios, dikutip Senin, 6 Juli 2026, Trump menyatakan dirinya tidak menyangka bahwa Khamenei masih memiliki dukungan besar dari masyarakat Iran. Selama ini, ia beranggapan bahwa pemimpin tertinggi Iran tersebut sudah kehilangan simpati rakyatnya.

"Saya terkejut. Saya pikir orang-orang membencinya (Khamenei)," kata Trump.

Gelombang kemarahan atas kematian Khamenei sebenarnya sudah tampak sejak hari pertama rangkaian prosesi pemakaman yang digelar pada Sabtu.

Media pemerintah Iran menayangkan wawancara dengan seorang politikus yang dalam sebuah program televisi menyatakan bahwa "slogan utama" yang disuarakan para pelayat adalah "seruan untuk menuntut balas darah."

Di pusat Kota Teheran, lokasi jenazah Ali Khamenei dan empat anggota keluarganya yang turut tewas disemayamkan, puluhan ribu warga terus memadati area tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir. Banyak di antara mereka tampak menangis saat menyaksikan peti jenazah Khamenei dari kejauhan.

Suasana duka bercampur amarah masih sangat terasa di tengah masyarakat. Massa juga meneriakkan berbagai slogan anti-Amerika, termasuk "Mati untuk Amerika" dan "Mati untuk Israel".

Baca Juga: Trump Puji Kekuatan Militer AS dan Kritik Komunisme saat Peringatan Hari Kemerdekaan

Sejumlah warga yang diwawancarai jurnalis Al Jazeera bahkan menegaskan bahwa kematian Khamenei harus mendapat balasan.

Meski demikian, Trump menanggapi suasana duka tersebut dengan nada sinis. Ia mempertanyakan ketulusan kesedihan yang ditunjukkan para pelayat Iran.

"Mungkin itu air mata palsu," ujarnya setelah menyaksikan tayangan berita yang memperlihatkan warga menangis dalam prosesi pemakaman.

Puluhan ribu orang berkumpul dalam upacara perpisahan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Masjid Imam Khomeini Mosalla di Teheran, Iran, pada Sabtu, 4 Juli 2026.  <b>(Antara)</b> Puluhan ribu orang berkumpul dalam upacara perpisahan mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Masjid Imam Khomeini Mosalla di Teheran, Iran, pada Sabtu, 4 Juli 2026. (Antara)

Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump juga melontarkan ancaman bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menghancurkan rezim Iran melalui satu serangan yang menyasar lokasi pemakaman Khamenei.

Pernyataan itu disampaikan di tengah kehadiran sejumlah pejabat tinggi Iran dan tiga putra Khamenei dalam prosesi salat jenazah. Namun, Mojtaba Khamenei, yang kini menggantikan posisi ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, tidak terlihat menghadiri acara tersebut.

Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei diduga berkaitan dengan pertimbangan keamanan. Sejak menggantikan posisi ayahnya, ia disebut terus menjadi salah satu target utama yang diincar oleh Israel dan Amerika Serikat.

TERKINI

Load More
x|close