Ntvnews.id, Jakarta - Sebanyak 28 warga Desa Tanjakan Mekar, Kabupaten Tangerang, Banten, hingga kini masih menetap di lokasi pengungsian yang disediakan pemerintah daerah akibat dampak kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk.
Para pengungsi yang terdiri atas ibu rumah tangga, lanjut usia (lansia), dan anak-anak telah menempati Kantor Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Rajeg, selama sepekan sejak kebakaran terjadi pada Selasa, 30 Juni 2026.
Salah seorang pengungsi, Qipi, mengatakan kebutuhan dasar selama berada di pengungsian telah dipenuhi oleh pemerintah.
"Saya sudah mengungsi selama tujuh hari. Kalau untuk bantuan tercukupi, seperti logistik makanan, kasur, itu tercukupi semua," kata Qipi di Kantor Desa Tanjakan Mekar, Kabupaten Tangerang, Senin, 6 Juli 2026.
Menurut dia, asap dari kebakaran TPA masih menyelimuti kawasan tempat tinggalnya sehingga ia memilih tetap berada di pengungsian demi menjaga keselamatan.
Baca Juga: 22 Warga Sekitar TPA Jatiwaringin Masih Jalani Penanganan ISPA dari Tim Medis
"Asap masih ada. Jadi, saya pilih menetap sementara di sini (pengungsian), karena tidak mau ambil risiko," ucapnya.
Qipi juga menjelaskan kebutuhan sehari-hari para pengungsi dipenuhi melalui bantuan logistik yang disalurkan pemerintah daerah, termasuk layanan dapur umum yang disiapkan selama masa tanggap darurat.
"Logistik kami disiapkan sama pemerintah, jadi masih aman selama kami di sini," kata dia.
Sementara itu, Kepala Desa Tanjakan Mekar, Uti, mengungkapkan sebagian besar warga yang masih mengungsi merupakan anak-anak dan lansia yang terdampak paparan asap dari kebakaran TPA Jatiwaringin.
"Kalau untuk hari ketujuh, sekitar 20 orang lebih. Asap TPA itu mengandung racun, ya memang untuk sehari-hari itu udah terdampak betul," katanya.
Baca Juga: KLH Ungkap Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Dipadamkan
Ia menambahkan, kondisi kesehatan para pengungsi saat ini telah membaik. Sebelumnya, sebagian besar warga mengalami infeksi saluran pernapasan (ISPA), namun kini terus dipantau oleh tenaga kesehatan.
"Ya alhamdulillah, dokter dan Puskesmas Rajeg memang selalu mengecek apabila ada warga yang mengungsi langsung diperiksa kesehatannya," ujarnya.
Terkait kebutuhan logistik, Uti memastikan persediaan bahan pokok masih mencukupi karena bantuan terus berdatangan dari pemerintah maupun relawan kemanusiaan.
"Alhamdulillah, logistik, semua makanan tercukupi, selain dari Dinsos, semalam juga dari Kementerian Sosial, termasuk dari PDAM dan bupati, dari provinsi pun sudah masuk," ujarnya.
Hingga Senin, 6 Juli 2026, proses pemadaman kebakaran masih dilakukan oleh tim gabungan dari pemerintah daerah, BNPB, KLH, dan Kementerian Kehutanan melalui jalur darat maupun udara.
Baca Juga: Pemkab Tangerang Tetapkan Tanggap Darurat Kebakaran TPA Jatiwaringin hingga 14 Juli 2026
Di lapangan, petugas pemadam kebakaran bersama personel Manggala Agni terus berupaya menjinakkan api dari darat. Sementara itu, operasi udara diperkuat dengan tiga unit helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Berdasarkan laporan yang dihimpun ANTARA pada Senin, 6 Juli 2026, luas area yang terbakar di TPA Jatiwaringin mencapai sekitar 18 hektare dari total 33 hektare. Memasuki hari ketujuh penanganan, petugas gabungan telah berhasil mengendalikan sebagian besar kobaran api dengan hanya menyisakan sekitar 3,6 persen area yang masih dalam proses pemadaman.
(Sumber: Antara)
Sejumlah warga tengah beristirahat di pengungsian di Kantor Balai Desa Tanjakan Mekar, Rajeg, Kabupaten Tangerang, Banten, yang terdampak kebakaran TPA Jatiwaringin, Mauk (Antara)