KLH Ungkap Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Sulit Dipadamkan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jul 2026, 14:19
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH) Diaz Faisal Malik Hendropriyono memberikan pernyataan resmi terkait penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu, 4 Juli 2026 Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH) Diaz Faisal Malik Hendropriyono memberikan pernyataan resmi terkait penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu, 4 Juli 2026 (Antara)

Ntvnews.id, Tangerang - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan proses pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, tidak dapat dilakukan secara cepat. Hal ini disebabkan karakteristik kebakaran sampah yang menyerupai kebakaran lahan gambut.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono di Kabupaten Tangerang, Sabtu, 4 Juli 2026, menjelaskan api tidak hanya membakar permukaan tumpukan sampah, tetapi juga menyala di bagian bawah sehingga sulit dipadamkan secara menyeluruh. Kondisi tersebut membuat penanganan darurat membutuhkan waktu lebih lama serta metode yang tepat.

"Dan memang pemadaman ini bukan hal yang mudah. Ini karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut. Karena mungkin di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika kita lihat di bagian bawahnya ini masih ada apinya. Jadi kapan saja bisa terus terbakar, dan karena ada CH4, bisa ada potensi ledakan," katanya menjelaskan.

Dia mengatakan, petugas gabungan menghadapi sejumlah tantangan selama proses pemadaman berlangsung. Untuk membantu mengidentifikasi sumber api, KLH akan mengoperasikan thermal drone yang dilengkapi kamera inframerah guna mendeteksi radiasi panas dan memetakan titik-titik kebakaran.

Baca Juga: KLH Minta Masyarakat Hindari Paparan Asap dari Kebakaran TPA Jatiwaringin

"Jadi kami hanya bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala," ucapnya.

Selain itu, KLH juga mengerahkan dua unit mobile monitoring system untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran. Peralatan tersebut digunakan mengukur kadar SO₂ (sulfur dioksida), NO₂ (nitrogen dioksida), serta partikel PM 1.0 dan PM 2.5.

"Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5 dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan dan lain sebagainya. Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis," paparnya.

Dia juga menyampaikan, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah mengirimkan 30 personel Manggala Agni dari Sulawesi dan Jawa Barat. Tim tersebut memiliki pengalaman menangani kebakaran lahan serta dibekali peralatan high pressure untuk menyemprotkan air langsung ke titik api yang berada di bawah permukaan tumpukan sampah.

"Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah," ujarnya.

Baca Juga: Penyelidikan Penyebab Kebakaran TPA Jatiwaringin Dimulai Setelah Api Padam Total

Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat pemadaman kebakaran yang telah melanda area sekitar 15 hektare sehingga kondisi darurat segera terkendali.

"Sehingga mungkin atau dimungkinkan untuk melakukan operasi TMC besok. Kita akan melakukan bersama BNPB dan BMKG," kata dia.

(Sumber: Antara)

x|close