Kelompok Katolik AS Kekang Paus Leo XIV, Kok Bisa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jul 2026, 07:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Paus Leo XIV. ANTARA/Anadolu/py/pri. Paus Leo XIV. ANTARA/Anadolu/py/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Salah satu kelompok Katolik tradisionalis yang berbasis di Amerika Serikat kembali memicu ketegangan dengan Vatikan setelah memutuskan untuk menahbiskan uskup tanpa memperoleh persetujuan dari Paus Leo XIV.

Langkah tersebut diambil meskipun Paus Leo XIV sebelumnya telah menyampaikan permohonan terakhir kepada Serikat Santo Pius X (SSPX) agar membatalkan rencana penahbisan tersebut. Namun, kelompok tradisionalis itu tetap bersikeras melanjutkan proses pengangkatan uskup tanpa restu dari pemimpin Gereja Katolik tersebut.

Sebelumnya, Paus Leo XIV telah memperingatkan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat dalam ajaran Gereja Katolik.

Serikat Santo Pius X dikenal sebagai kelompok Katolik yang mempertahankan ajaran tradisional dan konservatif serta menolak berbagai reformasi gereja yang didorong oleh Vatikan dalam beberapa dekade terakhir.

Perselisihan dengan kelompok tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Paus Leo XIV selama tahun pertama masa kepemimpinannya. SSPX secara konsisten menolak sejumlah reformasi yang diterapkan Gereja Katolik sejak pertengahan abad ke-20.

Menurut Paus, penahbisan uskup tanpa persetujuan Vatikan akan dianggap sebagai tindakan "schismatic" atau perpecahan. Apabila tetap dilaksanakan, para uskup yang ditahbiskan berpotensi dikenai ekskomunikasi atau dikeluarkan secara resmi dari persekutuan sakramen Gereja.

Baca Juga: Paus Leo XIV Salurkan Bantuan Darurat Rp1,8 Miliar untuk Korban Gempa Kembar Venezuela

"Saya memohon kepada Anda dan meminta dengan sepenuh hati: tolong batalkan!" tulis Paus dalam surat terakhir kepada serikat Santo Pius X, yang dikenal sebagai SSPX.

"Aku berdoa untukmu, karena merobek jubah Kristus yang tanpa jahitan adalah dosa yang sangat berat. Semoga Tuhan menerangi hati nuranimu dan membangkitkan hatimu."

Dalam doktrin Gereja Katolik, hubungan antara para uskup dan Paus merupakan fondasi utama persatuan gereja universal.

Sejak terpilih menjadi Paus, Leo XIV menjadikan penguatan persatuan gereja sebagai salah satu prioritas utama. Oleh karena itu, keputusan SSPX untuk tetap melaksanakan penahbisan uskup tanpa persetujuan Vatikan dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap hukum kanonik Gereja.

SSPX memiliki basis pengikut terbesar di Amerika Serikat dengan pusat organisasinya berada di Missouri. Kelompok tersebut juga mengelola seminari atau sekolah pendidikan imam di Dillwyn, Virginia.

Salah satu imam yang dijadwalkan menerima tahbisan uskup pada Rabu, 1 Juli 2026, adalah Pastor Michael Goldade, yang saat ini menjabat sebagai kepala seminari tersebut.

Serikat Santo Pius X didirikan pada tahun 1970 di Swiss oleh Uskup Agung Marcel Lefebvre, seorang pemuka Gereja asal Prancis. Namun, lima tahun kemudian, organisasi tersebut secara resmi dibubarkan oleh Uskup Fribourg.

Paus Leo XIV, Kepala Negara Vatikan, memberikan pidato di Aula Cihannuma, Perpustakaan Nasional Kepresidenan, usai pertemuan Masyarakat Sipil dan Delegasi Diplomatik yang diadakan di Ankara, Turki pada 27 November 2025. ANTARA/Do?ukan Keskink?l?&ccedil;/Ana <b>(Antara)</b> Paus Leo XIV, Kepala Negara Vatikan, memberikan pidato di Aula Cihannuma, Perpustakaan Nasional Kepresidenan, usai pertemuan Masyarakat Sipil dan Delegasi Diplomatik yang diadakan di Ankara, Turki pada 27 November 2025. ANTARA/Do?ukan Keskink?l?ç/Ana (Antara)

Pada tahun 1988, kelompok itu pernah menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan Paus, yang berujung pada pemberian sanksi ekskomunikasi terhadap para uskup tersebut.

Akar utama perpecahan antara SSPX dan Gereja Katolik arus utama terletak pada penolakan Marcel Lefebvre beserta para pengikutnya terhadap berbagai reformasi yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II pada dekade 1960-an.

Kelompok yang dikenal sebagai kaum "Lefebvris" itu menolak sejumlah ajaran hasil konsili, termasuk terkait kebebasan beragama, ekumenisme atau hubungan dengan denominasi dan agama Kristen lainnya, serta reformasi liturgi yang menjadi salah satu perubahan mendasar dalam Gereja Katolik modern.

TERKINI

Load More
x|close