BMKG Ungkap Kondisi Terkini NTT, 1.598 Gempa Susulan Tercatat Pascagempa M 7,7

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Agu 2026, 09:47
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Pemerintah mengerahkan BUMN gunaa membantu masyarakat terdampak bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan wilayah sekitarnya. Pemerintah mengerahkan BUMN gunaa membantu masyarakat terdampak bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan wilayah sekitarnya.

Ntvnews.id, Jakarta - Aktivitas kegempaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung pascagempa kuat yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah gempa susulan yang terjadi hingga Senin (17/8/2026) pagi telah mencapai 1.598 kali.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pihaknya masih melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan gempa susulan yang terus terjadi di wilayah terdampak.

"Gempa susulan terus kita pantau, sebentar saya buka dulu ya informasi terakhir. Ya, sampai dengan jam 7.00 pagi hari ini telah tercatat 1598 gempa susulan, magnitudo terbesar adalah 6,2 magnitudo, yang terkecil 1,3 dan kemudian yang dirasakan kira-kira 54 gempa," kata Faisal di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026).

Berdasarkan data BMKG, gempa susulan yang tercatat memiliki rentang magnitudo antara 1,3 hingga 6,2. Dari total kejadian tersebut, sekitar 54 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Meski aktivitas seismik masih tinggi, BMKG memperkirakan intensitas gempa susulan akan berangsur menurun dalam beberapa pekan mendatang. Proses peluruhan energi gempa diprediksi berlangsung selama dua hingga tiga minggu ke depan.

"Tapi kita terus masih memantau terkait dengan peluruhannya, kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan dia akan meluruh sehingga kita mulai dapat melakukan retrofitting atau perbaikan bangunan atau pembangunan kembali jika dibutuhkan," ujarnya.

Faisal menjelaskan, BMKG telah mengerahkan personel ke berbagai wilayah terdampak untuk mendukung pemantauan dan penanganan pascabencana. Di Pulau Flores sendiri, BMKG memiliki tiga kantor unit pelaksana teknis (UPT) serta dua pos pengamatan yang tetap beroperasi.

Baca Juga: Tamu Upacara HUT ke-81 RI Dapat Suvenir, Apa Isinya?

"Di NTT tim kita sekarang sudah bergerak ke lokasi. bahkan ada 3 UPT atau kantor BMKG yang ada di Pulau Flores dan juga ada dua pos kami di sana," ujarnya.

Menurut dia, keberadaan petugas BMKG di daerah terdampak memungkinkan respons cepat segera dilakukan sejak gempa utama terjadi. BMKG juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, serta tim SAR dalam mendukung proses tanggap darurat.

"Jadi ketika gempa terjadi memang ah staf BMKG sudah ada di lokasi, kita tersebar di 191 lokasi di Indonesia sehingga kita langsung bersama pementa daerah mengambil tindakan-tindakan ah penyelamatan, mendampingi BPBD, mendampingi tim SAR dan sebagainya," imbuh dia.

Sementara itu, dampak gempa besar yang mengguncang NTT masih menyisakan duka bagi masyarakat. Bencana tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan bangunan, serta memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 53 orang, sementara 135 orang lainnya mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

"Total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia dengan rincian, Kabupaten Manggarai Barat, satu jiwa. Kabupaten Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai: 25 jiwa, Nagekeo 1 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa," ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers, Minggu (16/8/2026).

Dengan masih terjadinya gempa susulan, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi guncangan lanjutan. Di sisi lain, pemerintah dan berbagai instansi terkait terus mempercepat proses evakuasi, penanganan korban, serta pendataan kerusakan guna mendukung pemulihan wilayah terdampak setelah aktivitas kegempaan mulai mereda.

HIGHLIGHT

x|close