Ntvnews.id, Taheran - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir. Bahkan, Trump secara sepihak mengklaim bahwa pemerintah Iran telah menyetujui langkah denuklirisasi.
Dilansir dari Fox News, Rabu, 1 Juli 2026, pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin, 29 Juni 2026 waktu setempat. Dalam kesempatan itu, Trump membahas rencana pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang disebut akan berlangsung di Doha, Qatar, pada Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Trump, agenda utama pembicaraan di Doha akan berfokus pada program nuklir Iran, khususnya terkait upaya denuklirisasi. Namun, sebelumnya Teheran telah membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak ada agenda pertemuan maupun negosiasi dengan Washington di Qatar dalam waktu dekat.
"Pertemuan di Doha itu mungkin akan menjadi pertemuan yang penting, mungkin juga tidak. Kita lihat saja nanti," ucap Trump kepada wartawan di sela-sela menandatangani perintah eksekutif terbarunya.
Trump kemudian kembali menegaskan sikap pemerintahannya terhadap program nuklir Iran.
"Ini soal denuklirisasi Iran. Kita tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Mereka sudah menyetujui hal tersebut," klaim Presiden AS tersebut.
Baca Juga: AS Sebut Iran Buka Akses ke Situs Nuklir
Sebelumnya, melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin, 29 Juni 2026, Trump menyatakan bahwa Iran sendiri yang meminta pertemuan dengan Amerika Serikat di Doha. Gedung Putih juga mengumumkan bahwa utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta penasihat sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, dijadwalkan menghadiri pertemuan tersebut.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Ruang Oval, Trump tetap bersikeras bahwa delegasi kedua negara akan bertemu di Qatar pada Selasa, 30 Juni 2026.
"Akan ada pertemuan mengenai hal itu besok," ucap Trump pada Senin, 29 Juni 2026.
"Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya. Namun, kinerja kita sangat baik dalam hal tersebut," ujarnya.
Iran Tegaskan Program Nuklir untuk Kepentingan Damai
Ilustrasi perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Anadolu) (Antara)
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan langsung terhadap klaim Trump mengenai kesepakatan denuklirisasi. Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin (29/6) kembali menegaskan posisi resmi Teheran bahwa negaranya tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.
Pezeshkian menyatakan bahwa mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebelumnya telah menyampaikan sikap yang jelas mengenai program nuklir Iran.
Pezeshkian mengatakan bahwa mendiang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya telah "menyatakan dengan jelas bahwa Iran tidak berniat membuat senjata nuklir". Dia menegaskan bahwa Iran tetap mempertahankan sikap yang sama.
"Kami meyakinkan masyarakat internasional bahwa aktivitas-aktivitas ini akan dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan segera dan dalam kerangka kebijakan yang telah kami tetapkan," tegas Pezeshkian dalam pernyataannya, seperti dilansir kantor berita ISNA dan Middle East Monitor.
Dalam pernyataan terpisah yang diunggah melalui media sosial X, Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen terhadap nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati dengan Amerika Serikat, selama Washington juga menjalankan kewajibannya sesuai kesepakatan.
Meski demikian, Presiden Iran itu mengingatkan bahwa negaranya tetap siap mengambil langkah tegas untuk mempertahankan diri apabila diperlukan.
"Saling pengertian adalah jalan dua arah. Jika pihak Amerika mematuhi kesepakatan tersebut, kami juga akan memenuhi komitmen kami," ujarnya.
Perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran kembali menunjukkan masih besarnya jurang perbedaan pandangan terkait masa depan program nuklir Iran dan hubungan kedua negara.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)