Ntvnews.id, Jakarta - Kesaksian seorang pilot jet tempur F-15 Amerika Serikat yang berhasil diselamatkan setelah pesawatnya ditembak jatuh di Iran pada April 2026 memunculkan perdebatan baru di kalangan intelijen Washington. Dalam keterangannya, sang pilot mengaku melihat formasi drone yang tidak biasa di udara, menyerupai seekor ubur-ubur raksasa.
Informasi tersebut disampaikan pilot F-15 itu kepada para pejabat intelijen AS dalam sesi briefing pascainsiden. Menurut empat sumber yang mengetahui masalah tersebut dan dikutip CNN, pengakuan itu belum pernah dipublikasikan sebelumnya dan hingga kini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Pilot tersebut mengaku menyaksikan sekumpulan drone yang bergerak dalam pola terorganisasi sesaat sebelum dirinya melontarkan diri dari pesawat. Jika pengamatan itu terbukti akurat, maka temuan tersebut dapat menjadi indikasi lompatan besar dalam kemampuan teknologi drone milik Iran.
"Beberapa drone saling terhubung dan bergerak serempak dengan drone-drone yang lebih kecil di bawah drone-drone yang lebih besar seperti kaki," demikian kesaksian pilot jet tempur F-15 itu, seperti dikutip salah satu sumber yang berbicara kepada CNN.
"Benar-benar seperti alien," imbuh pilot AS tersebut.
Deskripsi tersebut memunculkan gambaran formasi udara yang belum pernah diketahui sebelumnya. Drone-drone yang lebih kecil disebut bergerak di bawah unit yang lebih besar, menciptakan struktur menyerupai tentakel ubur-ubur yang melayang di udara.
Baca Juga: DPR Kawal Janji Pemerintah Naikkan Gaji Guru, Minimal Rp5 Juta Per Bulan
Sumber lain yang mengetahui hasil briefing itu menyebut pilot tersebut juga menggambarkan apa yang dilihatnya sebagai sebuah "ladang ranjau drone" di langit. Keterangan itu segera memicu perdebatan sengit di dalam komunitas intelijen AS mengenai kemungkinan teknologi yang digunakan Iran serta dampaknya terhadap peperangan modern.
Para analis intelijen kini berusaha memastikan apakah formasi yang dilaporkan tersebut benar-benar ada atau hanya kesalahan persepsi akibat kondisi pertempuran yang ekstrem. Namun sejumlah laporan awal memberikan perhatian khusus terhadap kemungkinan bahwa pola operasi drone itu memainkan peran penting dalam insiden jatuhnya F-15 tersebut.
Menurut dua sumber yang dikutip CNN, hasil penyelidikan awal mengarah pada dugaan bahwa formasi drone tersebut memungkinkan Iran menembak jatuh jet tempur AS itu. Meski demikian, penyebab pasti insiden tersebut masih terus diselidiki.
Peristiwa itu menjadi insiden pertama jatuhnya jet tempur AS di wilayah Iran selama konflik kedua negara berlangsung. Di dalam pesawat terdapat dua awak, yakni seorang pilot dan seorang petugas sistem senjata. Keduanya berhasil diselamatkan melalui operasi pasukan khusus AS di wilayah Iran.
Hingga kini belum diketahui apakah petugas sistem senjata yang berada di dalam F-15 tersebut juga menyaksikan fenomena drone berformasi ubur-ubur yang dilaporkan sang pilot.
Meski kesaksian itu menarik perhatian besar, tidak semua pejabat intelijen AS menerimanya begitu saja. Sejumlah pihak mempertanyakan akurasi pengamatan tersebut karena sang pilot diketahui mengalami gegar otak setelah insiden terjadi. Selain itu, jet tempur yang diterbangkannya juga telah dua kali ditembak jatuh selama perang AS-Iran berlangsung.
Keraguan tersebut bahkan muncul secara langsung dalam sesi tanya-jawab setelah penyelamatan. Menurut salah satu sumber yang mengetahui proses briefing itu, para pejabat intelijen sempat mempertanyakan kesaksian sang pilot dengan mengatakan:
"Apakah Anda yakin Anda melihat apa yang Anda katakan telah Anda lihat?"
Meski masih diperdebatkan, laporan mengenai drone Iran yang membentuk pola menyerupai ubur-ubur kini menjadi salah satu aspek paling menarik dalam penyelidikan jatuhnya F-15 AS. Jika terbukti nyata, formasi tersebut berpotensi menunjukkan kemampuan baru drone Iran yang selama ini belum pernah terungkap ke publik.
Ilustrasi Drone Perang (mehrnews.com)