Rusia Sebut Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Penghalang Perang Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Jun 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kremlin Kremlin (( (Antara (Xinhua) ))

Ntvnews.id, Moskow - Pemerintah Rusia menilai senjata nuklir masih menjadi satu-satunya faktor yang mampu mencegah dunia terjerumus ke dalam konflik berskala global. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi perlombaan senjata baru yang melibatkan sejumlah negara besar.

Kekhawatiran itu semakin mengemuka setelah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS), yakni New START, pada Februari lalu. Dengan berakhirnya kesepakatan tersebut, tidak ada lagi batasan resmi yang mengatur jumlah senjata nuklir yang dapat dikerahkan oleh dua negara dengan arsenal nuklir terbesar di dunia itu.

Hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari Moskow maupun Washington untuk memperbarui atau menggantikan perjanjian tersebut. Meski demikian, kedua negara telah sepakat untuk kembali membuka jalur dialog militer tingkat tinggi.

Dalam sebuah forum kebijakan luar negeri di Moskow, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan bahwa sistem keamanan global saat ini tengah mengalami pelemahan.

"Faktanya, kita tidak memiliki apa pun lagi di dunia ini selain pencegah nuklir. Itu satu-satunya hal yang melindungi dunia dari perang global," kata Peskov dalam forum tersebut, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 25 Juni 2026.

Menurutnya, perkembangan teknologi militer di masa depan berpotensi melahirkan jenis-jenis senjata non-nuklir baru yang memiliki daya rusak setara dengan senjata nuklir.

Baca Juga: AS Sebut Iran Buka Akses ke Situs Nuklir

"Seiring perkembangan teknologi, sudah jelas bahwa jenis baru untuk senjata non-nuklir akan muncul, tetapi pada akhirnya mungkin akan menyamai senjata nuklir dalam daya hancurnya," sebutnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin selama empat tahun terakhir berulang kali melontarkan pernyataan terkait kemampuan nuklir Rusia di tengah invasi militer Moskow ke Ukraina. Retorika tersebut kerap dikritik oleh AS dan negara-negara Eropa yang menilainya sebagai ancaman yang tidak bertanggung jawab.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mendorong pembentukan perjanjian pengendalian senjata nuklir baru yang juga melibatkan China. Desakan itu muncul seiring bertambahnya persenjataan nuklir Beijing, meskipun jumlahnya masih jauh di bawah Rusia maupun AS.

Namun, pemerintah China secara terbuka menolak ajakan tersebut. Rusia juga menegaskan bahwa jika China dimasukkan dalam perjanjian baru, maka negara-negara sekutu nuklir AS seperti Inggris dan Prancis harus turut dilibatkan.

Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py <b>(Antara)</b> Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)

Berakhirnya New START menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada lagi perjanjian yang membatasi pengerahan senjata nuklir di dunia.

Kesepakatan yang ditandatangani pada 2010 itu merupakan perjanjian terakhir yang lahir dari rangkaian upaya pengendalian senjata era Perang Dingin. Dalam perjanjian tersebut, Rusia dan AS masing-masing dibatasi hanya dapat menempatkan maksimal 1.550 hulu ledak nuklir aktif.

Menjelang berakhirnya masa berlaku New START, Moskow dan Washington berulang kali saling menuding telah melanggar atau tidak mematuhi ketentuan yang telah disepakati, sehingga memperburuk prospek perpanjangan perjanjian tersebut.

x|close