Survei: Mayoritas Warga AS Tolak Kebijakan Ekonomi dan Tarif Donald Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Mei 2026, 08:10
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.) Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.) (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Mayoritas warga United States menyatakan ketidakpuasan terhadap kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump, berdasarkan hasil survei Forbes/HarrisX yang dipublikasikan pada Rabu, 6 Mei 2026.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 58 persen responden tidak menyetujui kebijakan ekonomi Trump, sementara hanya 37 persen yang menyatakan dukungan. Penolakan juga terlihat terhadap kebijakan tarif dan perdagangan yang diterapkan pemerintahannya, dengan 56 persen responden menyatakan tidak setuju dan 37 persen mendukung.

Secara umum, tingkat persetujuan publik terhadap Trump tercatat berada di angka 41 persen. Sementara itu, sebanyak 55 persen responden mengaku tidak puas terhadap kinerjanya sebagai presiden.

Survei tersebut juga mengungkap pandangan masyarakat terkait konflik dengan Iran. Hanya 37 persen responden yang menyatakan dukungan terhadap operasi militer AS terhadap Iran.

Baca Juga: DPR AS Desak Trump Akui Program Nuklir Rahasia Israel

Jajak pendapat dilakukan terhadap 2.512 warga dewasa di AS dengan margin kesalahan sekitar 1,95 persen.

Sebelumnya, media Axios melaporkan bahwa White House memperkirakan Washington dan Teheran dapat segera menandatangani nota kesepahaman guna mengakhiri konflik yang tengah berlangsung. Namun, Trump menilai masih “terlalu dini” untuk membahas kemungkinan negosiasi langsung dengan Iran.

Pada 1 Mei lalu, survei Washington Post-ABC News-Ipsos juga menunjukkan lebih dari 60 persen warga AS menilai operasi militer terhadap Iran merupakan sebuah kesalahan.

Ketegangan meningkat sejak 28 Februari ketika AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Baca Juga: Ultimatum Iran, Trump: Pengeboman Akan Dimulai Jika Gagal Capai Kesepakatan

Kemudian pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Akan tetapi, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi itu membuat Trump memutuskan memperpanjang penghentian serangan guna memberikan waktu bagi Iran menyiapkan “proposal bersama.”

Eskalasi konflik tersebut juga berdampak pada jalur energi global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sempat terganggu, padahal wilayah itu merupakan rute utama distribusi minyak dan gas alam cair ke berbagai negara. Situasi tersebut memicu kenaikan harga bahan bakar di sejumlah kawasan dunia.

(Sumber: Antara)

x|close