Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran terkait proses negosiasi yang masih berlangsung. Trump menegaskan serangan militer akan kembali dilakukan dengan intensitas lebih besar apabila Teheran tidak menyetujui kesepakatan yang ditawarkan.
"Dengan asumsi Iran setuju untuk memberikan apa yang telah disepakati, yang mungkin merupakan asumsi besar, maka Epic Fury yang sudah melegenda akan berakhir, dan blokade yang sangat efektif akan memungkinkan Selat Hormuz TERBUKA UNTUK SEMUA, termasuk Iran. Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai, dan sayangnya akan dilakukan pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, seperti dilansir CNN, Kamis, 7 Mei 2026.
Trump mengatakan pemerintah AS masih membuka peluang tercapainya kesepakatan yang dapat mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Namun, ia menilai kemungkinan itu masih belum pasti dan menjadi “asumsi besar”.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan kepada wartawan bahwa operasi militer Epic Fury sebenarnya telah selesai.
Baca Juga: Menlu AS Dijadwalkan ke Vatikan di Tengah Memanasnya Hubungan Trump dan Paus Leo XIV
"Operasi sudah selesai. Epic Fury, sebagaimana telah diberitahukan presiden kepada Kongres, kami sudah menyelesaikan tahap itu," kata Rubio dalam konferensi pers.
Gedung Putih juga telah memberi tahu anggota Kongres bahwa perang dinyatakan berakhir setelah tercapainya gencatan senjata. Langkah tersebut sekaligus menghindari kewajiban hukum untuk meminta persetujuan Kongres terhadap konflik yang berlangsung lebih dari 60 hari.
Meski demikian, Trump tetap memperingatkan Iran akan menghadapi balasan besar apabila menyerang kapal-kapal milik AS. Pekan lalu, Trump juga mengumumkan operasi bernama Project Freedom untuk membantu kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz.
"Ini bukan operasi ofensif; ini adalah operasi defensif," kata Rubio.
Ilustrasi - Unit-unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal yang dibajak selama latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, Hormozgan, Iran, Kamis (19/2/2026). /ANTARA/HO-Iranian Navy/Joint Military Ex (Antara)
"Artinya sangat sederhana-tidak ada penembakan kecuali kita ditembak terlebih dahulu," ujarnya.
Serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut disebut menewaskan sejumlah pemimpin serta menghancurkan fasilitas militer dan ekonomi penting Iran. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah.
Pada 8 April, Trump mengumumkan tercapainya gencatan senjata dengan Iran yang kemudian diperpanjang, meskipun proses negosiasi dengan Teheran hingga kini masih mengalami kebuntuan.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers di Gedung Putih Washington DC, Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. (Antara)