China Raup Keuntungan dari Perang AS-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Mei 2026, 07:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py.) Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - Mantan analis CIA, John Nixon, menilai China menjadi salah satu pihak yang diuntungkan dari konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran

Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Nixon mengatakan Beijing berpotensi meraih keuntungan ekonomi besar apabila perang kedua negara terus berlangsung tanpa kepastian akhir.

Menurut Nixon, China merupakan pembeli utama energi dari negara-negara Teluk. Sikap Beijing yang tidak terlihat membawa agenda perang ke kawasan Timur Tengah dinilai membuat posisinya semakin menarik di mata negara-negara regional.

"China dipandang sebagai negara yang sangat transaksional, dan itu adalah hal negatif. Tapi, seiring waktu, jika Amerika Serikat terus bersikap ceroboh dalam berurusan dengan negara-negara di kawasan ini, maka seiring waktu pesan dari China akan lebih diterima," kata Nixon.

Baca Juga: Versi Berbeda AS dan Iran soal Insiden Penembakan Kapal Sipil di Selat Hormuz

Ia menambahkan China masih "sangat bergantung pada sumber daya energi" dari Timur Tengah. Bahkan ketika dunia mulai beralih dari bahan bakar fosil, Beijing disebut akan tetap menjadi "pelanggan besar" bagi negara-negara Teluk.

"Hubungan ini akan semakin kuat," ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan pengamat China sekaligus mantan Duta Besar AS untuk Singapura, Frank Lavin. Ia menilai konflik AS-Iran membuka peluang besar bagi China untuk semakin diterima sebagai mitra strategis, terutama di tengah memburuknya hubungan politik Washington dengan negara-negara Eropa dan sekutunya.

"China mampu menandatangani perjanjian otomotif dengan Kanada di tengah memburuknya hubungan AS-Kanada dan tidak diragukan lagi akan ada peluang untuk membina hubungan yang lebih baik dengan Eropa di tengah kritik Trump terhadap NATO dan ketidakpuasan umumnya terhadap Eropa," kata Lavin dalam opini di Forbes.

Sejak konflik dengan Iran memanas, Presiden AS Donald Trump beberapa kali melontarkan kritik kepada negara-negara NATO yang enggan membantu Washington menghadapi Teheran. Trump bahkan menyebut aliansi pertahanan itu sebagai "macan kertas".

Baca Juga: Supertanker Iran Bermuatan 1,9 Juta Barel Minyak Dilaporkan Lolos dari Blokade AS

Kekecewaan tersebut membuat Trump memutuskan mengurangi jumlah pasukan AS di sejumlah negara yang dinilai tidak mendukung langkah Washington, termasuk Jerman.

Sebanyak 5.000 tentara AS disebut akan ditarik dari Jerman dalam periode enam hingga 12 bulan mendatang.

x|close