Ntvnews.id, Naypyidaw - Presiden Myanmar sekaligus mantan pemimpin junta militer Min Aung Hlaing memerintahkan pemindahan mantan pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi ke tahanan rumah. Kebijakan itu diambil lima tahun setelah Suu Kyi ditahan usai kudeta militer pada 2021.
Dilansir dari AFP, Minggu, 3 Mei 2026, kantor Min Aung Hlaing menyatakan bahwa dirinya telah "mengurangi sisa hukuman" Suu Kyi yang kini berusia 80 tahun "untuk dijalani di kediaman yang telah ditentukan".
Hingga kini belum diketahui secara pasti lokasi baru tempat Suu Kyi akan ditempatkan. Namun, seorang sumber senior dari partai National League for Democracy (NLD) yang telah dibubarkan menyebut Suu Kyi kemungkinan akan ditempatkan di sebuah lokasi di ibu kota Naypyidaw.
"Kami tidak tahu persis di mana tempatnya," kata sumber tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena alasan keamanan.
Pemerintah Myanmar juga tidak menjelaskan secara rinci sisa hukuman yang masih harus dijalani Suu Kyi.
Sebagai kepala militer, Min Aung Hlaing menggulingkan pemerintahan terpilih Suu Kyi pada 2021 dan menahannya dengan sejumlah dakwaan yang menurut kelompok hak asasi manusia sengaja direkayasa untuk menyingkirkannya dari panggung politik.
Kudeta tersebut memicu konflik sipil berkepanjangan di Myanmar yang telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga mengungsi di negara berpenduduk sekitar 50 juta jiwa itu.
Baca Juga: Indonesia Dukung Perdamaian Myanmar, Tekankan Proses Politik yang Inklusif dan Legitimate
Pada bulan ini, Min Aung Hlaing melepas status militernya dan resmi dilantik sebagai presiden sipil setelah pemilu yang dikontrol ketat dan tidak melibatkan NLD.
Setiap kritik maupun aksi protes terhadap pemilu tersebut diancam hukuman hingga 10 tahun penjara. Selain itu, pemungutan suara juga tidak berlangsung di wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak.
Sejumlah pengawas demokrasi menilai proses pemilu itu hanya menjadi upaya memperbaiki citra pemerintahan militer yang telah lama mendominasi Myanmar sejak masa pascakemerdekaan.
Pelonggaran sejumlah pembatasan pascakudeta dan pemberian amnesti tahanan juga dinilai para analis sebagai langkah simbolis demi memperbaiki reputasi pemerintahan saat ini.
"Menurut saya, mereka memainkan permainan yang sama seperti biasanya," kata putra Suu Kyi, Kim Aris, melalui sambungan telepon.
Pemimpin junta Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing saat menghadiri parade militer memperingati 78 tahun angkatan bersenjata Myanmar di Naypyidaw, Myanmar, Jumat, 1 Agustus 2025. (Antara)
"Mereka mencoba melegitimasi diri mereka sendiri di mata media internasional dan pemerintah di seluruh dunia." ujarnya.
"Jika dia benar-benar telah dipindahkan ke tahanan rumah, maka saya berharap dia akan diizinkan berkomunikasi dengan saya dan pengacaranya, di antara yang lain," tambahnya.
"Tidak ada yang menghubungi saya." jelasnya.
Baca Juga: Min Aung Hlaing Terpilih Jadi Presiden Myanmar, Perkuat Kekuasaan Junta
Suu Kyi diketahui masih memiliki dukungan besar di Myanmar. Namun, ia hampir sepenuhnya terisolasi, sementara pihak keluarga beberapa kali mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatannya yang terus menurun.
Dalam salah satu keputusan awalnya sebagai presiden sipil, Min Aung Hlaing juga memberikan pengampunan kepada ajudan utama Suu Kyi, Win Myint, yang sebelumnya menjabat sebagai presiden seremonial di pemerintahan Suu Kyi.
Bendera Myanmar (Pixabay)