Perahu Pengungsi Rohingya Terbalik di Laut Andaman, Sekitar 250 Orang Dilaporkan Hilang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Apr 2026, 06:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Imigran Rohingya di Pantai Leuge, Kecamatan Pereulak, Kabupaten Aceh Timur, Rabu (29/1/2025) Arsip foto - Imigran Rohingya di Pantai Leuge, Kecamatan Pereulak, Kabupaten Aceh Timur, Rabu (29/1/2025) (Antara)

Ntvnews.id, Dhaka - Sekitar 250 orang dilaporkan hilang setelah sebuah perahu yang mengangkut pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh terbalik di Laut Andaman. Insiden tersebut diduga dipicu oleh cuaca buruk berupa angin kencang, gelombang tinggi, serta kelebihan muatan.

Dilansir dari Reuters, Rabu, 15 April 2026, badan pengungsi dan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kapal penangkap ikan yang membawa sekitar 250 pria, perempuan, dan anak-anak itu tenggelam dalam perjalanan dari Teknaf, wilayah selatan Bangladesh, menuju Malaysia.

"Tragedi ini menyoroti besarnya biaya kemanusiaan akibat pengungsian berkepanjangan serta terus tidak adanya solusi jangka panjang bagi Rohingya," kata Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi dan Organisasi Internasional untuk Migrasi dalam pernyataan bersamanya.

Selama bertahun-tahun, kelompok minoritas Muslim Rohingya dari Myanmar kerap menempuh perjalanan laut menggunakan perahu sederhana untuk mencari perlindungan di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Mereka berupaya melarikan diri dari persekusi di Myanmar maupun kondisi kamp pengungsian yang padat di Bangladesh.

Baca Juga: Presiden Baru Myanmar Dilaporkan ke Kejagung RI Atas Dugaan Genosida Rohingya

Lembaga-lembaga tersebut juga mendesak komunitas internasional agar meningkatkan dan mempertahankan dukungan pendanaan untuk bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh, sekaligus membantu masyarakat lokal yang menampung mereka.

Pada 2017, militer Myanmar melancarkan operasi besar yang memaksa sedikitnya 730.000 warga Rohingya meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke Bangladesh. Para korban melaporkan terjadinya pembunuhan, pemerkosaan massal, serta pembakaran permukiman. Tim pencari fakta PBB menyimpulkan bahwa operasi militer tersebut mencakup "tindakan genosida."

Namun demikian, pemerintah Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha membantah tuduhan genosida dan menyatakan bahwa temuan tim PBB tidak objektif serta tidak dapat diandalkan.

x|close