Meski Konflik Memanas, Puluhan Kapal Tetap Lintasi Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Mar 2026, 05:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Suasana perairan di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am. Suasana perairan di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Sekitar 90 kapal, termasuk tanker minyak, tercatat tetap melintasi Selat Hormuz sejak pecahnya konflik dengan Iran.

Meski jalur perairan strategis tersebut sempat tertutup secara efektif, Iran dilaporkan masih mampu mengekspor jutaan barel minyak ke pasar global.

Berdasarkan data dari platform pelacakan maritim dan perdagangan, banyak kapal yang melintas diduga melakukan perjalanan “gelap” untuk menghindari sanksi dan pengawasan negara Barat. Firma data maritim Lloyd’s List Intelligence menyebut sebagian kapal tersebut memiliki keterkaitan dengan Iran.

Perkembangan terbaru menunjukkan kapal-kapal yang berafiliasi dengan India dan Pakistan juga berhasil melintasi selat tersebut, seiring meningkatnya komunikasi dan negosiasi antar pemerintah.

Dilansir dari TRT World, Jumat, 20 Maret 2026, lonjakan harga minyak mentah yang melampaui USD100 per barel mendorong Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menekan sekutu dan mitra dagang agar mengirimkan kapal perang guna membuka kembali jalur tersebut demi menekan harga energi global.

Baca Juga: Trump Keluhkan Minimnya Dukungan Sekutu AS untuk Misi Pengawalan di Selat Hormuz

Sebagian besar lalu lintas di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia dengan kontribusi sekitar seperlima kebutuhan global sempat terhenti sejak awal Maret, dengan sekitar 20 kapal dilaporkan menjadi target serangan.

Meski demikian, Iran disebut masih mampu mengekspor lebih dari 16 juta barel minyak sejak awal bulan, berdasarkan estimasi platform analisis perdagangan Kpler. Dalam kondisi sanksi dan risiko tinggi, China tetap menjadi pembeli utama minyak Iran.

Analis risiko perdagangan Kpler, Ana Subasic, menyebut adanya “ketahanan berkelanjutan” dalam volume ekspor minyak Iran.

Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)

Sementara itu, Direktur klien firma konsultan Reddal, Kun Cao, menilai Iran tidak hanya meraih keuntungan dari penjualan minyak, tetapi juga berhasil “mempertahankan jalur ekspornya sendiri” dengan memanfaatkan kontrol atas jalur sempit strategis tersebut.

Data lalu lintas maritim menunjukkan setidaknya 89 kapal melintasi Selat Hormuz pada periode 1–15 Maret, termasuk 16 tanker minyak. Jumlah ini jauh menurun dibandingkan kondisi normal sebelum konflik yang mencapai 100 hingga 135 kapal per hari.

Lebih dari seperlima kapal tersebut diduga berafiliasi dengan Iran, sementara sisanya terkait dengan China dan Yunani.

Baca Juga: Prabowo: Hilirisasi adalah Kunci Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas

Beberapa kapal dari negara lain juga tetap melintas, termasuk tanker berbendera Pakistan, Karachi, serta kapal LPG India, Shivalik dan Nanda Devi. Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menyebut kapal-kapal tersebut dapat melintas setelah dilakukan pembicaraan dengan Iran.

Pemimpin redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, menilai sebagian pelayaran kemungkinan berlangsung “dengan tingkat intervensi diplomatik tertentu,” yang mengindikasikan Iran menciptakan koridor aman di dekat wilayah pantainya.

Analisis dari platform pelacakan kapal MarineTraffic juga menunjukkan sejumlah kapal mengklaim memiliki keterkaitan dengan China atau diawaki kru asal negara tersebut untuk meminimalkan risiko serangan, memanfaatkan hubungan erat antara kedua negara.

x|close