Airlangga Sebut Indonesia Sudah Amankan Pasokan Energi dari Luar Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mar 2026, 16:45
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis, 19 Februari 2026. Pemerintah Indonesia-AS resmi menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik dengan pengenaan tarif sebesar 19 persen terhadap produk-produk asal Indonesia dengan pengecualian khusus bagi produk-produk tertentu seperti tekstil dan garmen. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis, 19 Februari 2026. Pemerintah Indonesia-AS resmi menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik dengan pengenaan tarif sebesar 19 persen terhadap produk-produk asal Indonesia dengan pengecualian khusus bagi produk-produk tertentu seperti tekstil dan garmen. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia memastikan ketersediaan pasokan energi tetap aman meskipun terjadi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah alternatif pasokan energi, termasuk melalui kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat serta akses pasokan yang dimiliki PT Pertamina di Venezuela.

"Kalau dari segi energi, karena kebetulan kita sudah tanda tangan ART (Agreement of Reciprocal Trade), memang suplai dari energi kita sudah juga melakukan MoU dengan Amerika Serikat dan juga Pertamina punya akses di Venezuela," kata Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Melalui dokumen kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat, Indonesia juga berkomitmen membeli komoditas energi dari Negeri Paman Sam senilai sekitar 15 miliar dolar Amerika Serikat. Nilai tersebut meliputi impor liquefied petroleum gas (LPG) sebesar 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah 4,5 miliar dolar AS, serta bensin hasil kilang sekitar 7 miliar dolar AS. 

Airlangga menambahkan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan situasi global yang dinilai sulit diprediksi. Menurutnya, Indonesia kini lebih siap menghadapi ketidakpastian tersebut dengan belajar dari pengalaman lonjakan harga energi yang terjadi saat konflik Rusia dan Ukraina.

Baca Juga: Prabowo Pastikan Energi dan Pangan Aman Jelang Lebaran

Ia menjelaskan bahwa dinamika kenaikan harga energi memiliki dua sisi. Di satu sisi pemerintah harus menjaga stabilitas subsidi energi agar tidak membebani masyarakat, namun di sisi lain kenaikan harga komoditas juga dapat meningkatkan penerimaan negara.

"Di satu sisi itu yang terkait dengan subsidi kita jaga dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi ya kita akan lanjutkan. Dan APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau (harga) komoditas itu naik," tuturnya.

Meski demikian, Airlangga menilai masih terlalu dini untuk menghitung secara pasti dampak konflik di Timur Tengah terhadap kondisi ekonomi global maupun Indonesia.

“Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menilai ketidakpastian global juga dapat membuat investor cenderung menahan ekspansi. Dalam situasi tersebut, menurut Airlangga, ketahanan ekonomi dan kemampuan bertahan menjadi faktor penting bagi negara dalam menghadapi dinamika global.

“Inilah yang harus kita dorong karena the new world juga membuat semua investasi akan melihat kembali, dan juga akan menahan karena dalam situasi seperti ini tentu daya tahan, resiliensi itu yang paling utama termasuk juga di sektor ekonomi,” katanya.

Baca Juga: Cak Imin soal Perang AS-Iran: Kita Antisipasi Pangan dan Energi

(Sumber: Antara) 

x|close