Ntvnews.id, Jakarta - Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran memasuki hari kelima dengan eskalasi militer yang semakin luas. Operasi militer yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury disebut telah mengubah pola konflik modern dari perang bayangan menjadi perang antarnegara dengan intensitas tinggi.
Analis militer dan mantan penerbang tempur, Agung Sasongkojati atau “Sharky”, menilai konflik ini menandai perubahan besar dalam dinamika kekuatan global, terutama terkait supremasi udara Barat yang selama puluhan tahun dianggap hampir tak tertandingi.
Menurut Sharky, serangkaian serangan rudal, drone, serta operasi siber yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa strategi perang modern kini lebih bergantung pada saturasi serangan, teknologi murah, dan perang asimetris dibandingkan keunggulan platform militer mahal seperti jet tempur generasi kelima.
Sharky menilai Operasi Epic Fury memperlihatkan bagaimana Iran mencoba menantang dominasi militer Barat melalui pendekatan asimetris. Dalam strategi ini, Iran memanfaatkan kombinasi drone murah, rudal balistik presisi, dan perang siber untuk menekan kekuatan udara lawan.
Baca Juga: Prancis Nyatakan Dukungan Kepada Spanyol Usai Ancaman Perdagangan dari AS
Salah satu insiden paling menonjol terjadi pada 2 Maret 2026 ketika tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara AS dilaporkan ditembak jatuh secara tidak sengaja oleh pesawat F/A-18 Hornet milik Kuwait. Insiden ini diduga dipicu gangguan sistem identifikasi kawan atau lawan (IFF) yang menyebabkan pesawat sekutu terbaca sebagai target musuh.
Menurut Sharky, kejadian tersebut menunjukkan kemungkinan gangguan serius pada sistem komunikasi dan datalink militer Barat yang selama ini menjadi tulang punggung koordinasi operasi udara.
“Jika sistem identifikasi mulai gagal dan sekutu menembak sekutu, maka kepercayaan dalam komando udara terpadu bisa runtuh,” ujarnya dalam analisis terbaru.
Perkembangan lain yang menjadi perhatian adalah kerusakan radar peringatan dini di pangkalan udara Al Udeid Air Base di Qatar. Radar besar tipe AN/FPS-132 Upgraded Early Warning Radar dilaporkan rusak setelah serangan kombinasi drone dan rudal.
Dalam serangan tersebut, drone murah diduga digunakan untuk memancing sistem pertahanan udara agar menghabiskan rudal pencegat sebelum rudal presisi menghantam kubah radar utama.
Baca Juga: Iran Bantah Tembakkan Rudal ke Wilayah Turki, Tegaskan Hormati Kedaulatan Ankara
Kerusakan radar ini disebut menciptakan celah besar dalam sistem peringatan dini Amerika Serikat di kawasan Teluk.
“Drone murah mampu melumpuhkan sistem pertahanan bernilai miliaran dolar. Ini menunjukkan bahwa kuantitas bisa mengalahkan teknologi mahal,” kata Sharky.
Di sisi lain, wilayah sekitar Tel Aviv dilaporkan terkena serangan rudal balistik dengan teknologi Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle (MIRV). Sistem pertahanan udara Israel dilaporkan tidak mampu mencegat seluruh hulu ledak, sehingga sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan.
Serangan ini dinilai memiliki dampak psikologis besar karena menunjukkan bahwa kota-kota besar Israel kini berada dalam jangkauan serangan langsung.
Konflik ini juga memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi global. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz berpotensi mengganggu jalur utama perdagangan minyak dunia. Lonjakan harga minyak yang tajam dapat berdampak pada banyak negara, terutama negara pengimpor energi.
Sebuah jet tempur F16 Turki terbang di atas kapal-kapal angkatan laut selama latihan angkatan laut NATO tahunan di pantai barat Turki di Mediterania [File: Khalil Hamra/AP] (Reuters)