Mendukbangga Ingatkan Remaja Tidak Jadikan AI Tempat Curhat Utama

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Okt 2026, 15:29
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026. Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, mengingatkan remaja agar tidak menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat utama untuk mencurahkan persoalan pribadi, terutama yang berkaitan dengan kondisi psikologis. Menurutnya, AI tidak memiliki empati dan perasaan seperti manusia.

Wihaji menyampaikan hal tersebut dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.

"AI itu robot. Dia tidak punya hati. Untuk hal-hal yang berkenaan dengan kemanusiaan, hati, dan psikologis, bisa dikomunikasikan kepada teman-teman sebaya yang diharapkan mengerti," katanya dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan AI untuk mencurahkan isi hati bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Namun, remaja tetap perlu membangun komunikasi dengan orang lain agar memperoleh dukungan emosional.

Baca Juga: Wihaji: Waktu Berkualitas Ayah dan Anak Tak Bisa Digantikan Teknologi maupun AI

Menurut Wihaji, salah satu kendala yang dihadapi remaja adalah kesulitan untuk terbuka kepada orang tua. Sebagian dari mereka khawatir akan disalahkan atau dihakimi ketika menceritakan persoalan yang sedang dihadapi.

"Salah satu keluhan yang ditemukan pada remaja adalah keengganan mereka bercerita kepada orang tua karena khawatir langsung disalahkan atau dihakimi ketika menyampaikan masalahnya," ujar dia.

Karena itu, kelompok teman sebaya dapat menjadi tempat awal bagi remaja untuk berbagi cerita. Wihaji juga menekankan bahwa mengungkapkan masalah dan menunjukkan emosi bukanlah tanda kelemahan.

"Karena rata-rata, saya malu, saya dianggap nanti tidak petarung. Padahal, cerita bukan berarti cengeng, menangis bukan berarti cengeng," tuturnya.

Baca Juga: Wihaji: Pernikahan Tak Tercatat Tingkatkan Risiko Keluarga Rentan Stunting

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, BKKBN menyediakan wadah komunikasi bagi remaja melalui program Generasi Berencana (Genre) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Kedua program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi remaja untuk berbagi pengalaman dan memperoleh dukungan.

Selain dukungan dari teman sebaya, remaja yang menghadapi persoalan lebih kompleks juga perlu mendapatkan pendampingan dari tenaga profesional, seperti psikolog.

Wihaji turut meminta agar program Genre dan PIK-R dioptimalkan untuk menjangkau kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, anak jalanan, serta masyarakat miskin dan kelompok marginal.

Di sejumlah daerah, komunitas Genre telah dilibatkan dalam kegiatan pendekatan informal untuk memberikan dukungan kepada anak jalanan dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

Menurut Wihaji, upaya pendampingan perlu menjangkau berbagai kelompok, baik yang berada di lingkungan pendidikan formal maupun masyarakat yang belum tersentuh layanan secara optimal.

(Sumber: Antara)