Ntvnews.id, Yogyakarta - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, menilai pernikahan yang tidak tercatat secara resmi dapat meningkatkan kerentanan keluarga, termasuk risiko terjadinya stunting pada anak.
Pernyataan tersebut disampaikan Wihaji saat mengunjungi keluarga berisiko stunting (KRS) di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang akan diperingati pada 29 Juni.
Menurut Wihaji, masih terdapat masyarakat yang belum memahami dampak jangka panjang dari pernikahan yang tidak memiliki pencatatan resmi. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan, terutama ketika keluarga menghadapi situasi sulit.
"Kita menemukan kasus seorang ibu dengan tiga anak yang menghadapi kesulitan ekonomi setelah pernikahannya tidak tercatat secara resmi dan sang suami meninggal dunia. Kasus tersebut menunjukkan masih rendahnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai risiko yang dapat muncul akibat pernikahan yang tidak tercatat," katanya.
Baca Juga: Wihaji: Akses Pendidikan Kunci Cegah Pernikahan Dini dan Stunting
Karena itu, Wihaji meminta Tim Pendamping Keluarga (TPK), penyuluh lapangan, serta petugas Kemendukbangga/BKKBN untuk memperkuat edukasi kepada calon pengantin mengenai berbagai konsekuensi yang mungkin timbul dari keputusan yang diambil sebelum membangun rumah tangga.
Ia menilai pendampingan sejak sebelum pernikahan penting dilakukan agar pasangan lebih siap dalam membentuk keluarga yang sejahtera dan mampu memenuhi kebutuhan anak.
"Kita harus mengedukasi masyarakat mengenai risiko-risiko yang bisa muncul. TPK harus mendampingi calon pengantin agar ke depan keluarga yang dibangun lebih siap dan lebih baik," ujarnya.
Wihaji juga menjelaskan bahwa kunjungan langsung ke lapangan merupakan bagian dari langkah pemerintah dalam menangani persoalan keluarga secara nyata. Berbagai masalah yang dihadapi keluarga berisiko stunting, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan gizi, tetapi juga menyangkut kondisi ekonomi, sanitasi, akses terhadap air bersih, hingga rendahnya pengetahuan keluarga.
Baca Juga: Wihaji Tekankan Pentingnya Ketahanan Keluarga Sejak Pra-Nikah hingga Lansia
Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan komitmen Kemendukbangga/BKKBN untuk terus menjangkau kelompok rentan melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program itu dijalankan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan sektor swasta.
Pemerintah saat ini terus memperkuat pelaksanaan Program Genting sebagai salah satu strategi percepatan penurunan angka stunting melalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Melalui dukungan berbagai pihak, diharapkan semakin banyak keluarga berisiko stunting memperoleh pendampingan dan bantuan yang sesuai sehingga mampu membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan sejahtera.
(Sumber: Antara)
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (dua dari kanan) memberikan bantuan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) kepada keluarga berisiko stunting di Sleman, Yogyakarta, Kamis, 25 Juni 2026. (Antara)