BI Catat Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Triwulan II 2026 Turun Jadi 0,9 Miliar Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Agu 2026, 14:47
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Logo Bank Indonesia (BI) Jakarta. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa/am Logo Bank Indonesia (BI) Jakarta. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa/am (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 mengalami defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh membaik dibandingkan defisit pada triwulan I 2026 yang mencapai 9,1 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan kinerja NPI tetap terjaga meski ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Pada periode yang sama, transaksi berjalan mencatat defisit 12,5 miliar dolar AS atau setara dengan 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut meningkat dari triwulan sebelumnya yang tercatat 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen dari PDB.

Peningkatan defisit transaksi berjalan antara lain dipengaruhi oleh membesarnya defisit perdagangan migas. Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya impor minyak di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Baca JugaPrabowo Tetapkan Asumsi Rupiah Rp17.500 per Dolar AS dalam RAPBN 2027

Surplus perdagangan nonmigas juga mengalami penurunan. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah meningkatnya impor barang nonmigas untuk memenuhi kebutuhan aktivitas ekonomi domestik yang masih tinggi.

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer turut meningkat karena adanya kenaikan pembayaran pendapatan primer. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif tidak banyak berubah dibandingkan triwulan I 2026.

Dari sisi transaksi modal dan finansial, NPI mencatat surplus sebesar 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II 2026. Kondisi tersebut berbalik dari triwulan sebelumnya yang mencatat defisit 4,8 miliar dolar AS.

Surplus investasi langsung juga meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perkembangan tersebut didukung oleh tetap positifnya persepsi investor terhadap prospek perekonomian serta iklim investasi di dalam negeri.

Baca JugaRupiah Jelang Akhir Pekan Dibuka Menguat Tipis ke Rp17.873 per Dolar AS

Investasi portofolio turut mencatat kenaikan surplus. Hal itu sejalan dengan meningkatnya imbal hasil instrumen keuangan domestik. Sementara itu, defisit pada investasi lainnya tercatat lebih rendah.

Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia berada di level 145,6 miliar dolar AS. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor apabila turut memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi cadangan devisa tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di sekitar tiga bulan impor.

Bank Indonesia menilai prospek NPI ke depan masih positif dan dapat menopang ketahanan eksternal Indonesia.

Defisit transaksi berjalan diperkirakan akan mengecil seiring membaiknya prospek ekspor. Perbaikan tersebut didukung kenaikan harga komoditas dunia, termasuk sejumlah komoditas utama ekspor Indonesia, serta dampak positif dari penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, transaksi modal dan finansial diperkirakan tetap mencatat surplus. Arus modal asing diproyeksikan terus masuk karena imbal hasil instrumen keuangan domestik masih menarik dan prospek ekonomi Indonesia tetap positif.

“Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Ramdan.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close